iklan gbr

Rabu, 22 Maret 2017

DAFTAR GRUP PEMBURU BEASISWA


 DAFTAR GRUP PEMBURU BEASISWA

1. STUNED (Belanda)
https://t.me/joinchat/AAAAAEFPgw8HuAZqqxkNLA

2. KGSP (Korea)
https://t.me/joinchat/AAAAAD_91IPaF_NrK4demQ

3. Fulbright 2017 (US)
https://t.me/fulbright17

4. Australia Awards 2017
https://telegram.me/joinchat/DpyBuUBhq4z4RjsNtYuuVg

5. NZAS 2017 (NZ)
https://t.me/joinchat/AAAAAEESzm6okMb00vYotg

6. YTB Turki
- Grup WA
https://chat.whatsapp.com/6EGB5MmYwZyJKT90M3oAYL
- Grup Line
http://line.me/R/ti/g/rt6IINIx02

7. Beasiswa Brunei 2017
https://t.me/joinchat/AAAAAEA6MlMt3XrK-mtZIQ

8. Swedish Institute (Swedia)
https://t.me/joinchat/AAAAAArrPcUNRZ9l1XkjGQ

9. Pejuang BU Kemendikbud
https://t.me/joinchat/AAAAAEJ36JThW7E7jcrI-g

10. Beasiswa BUDI
https://t.me/beasiswabudi


 KHUSUS LPDP

1. LPDP Batch 1 2017
Grup
https://telegram.me/joinchat/CwAQKED8ArMMkTix_bjaNA
Channel
https://t.me/channelpdpbatch12017

2. LPDP Afirmasi 2017
https://telegram.me/joinchat/Dh_05D__gdkFiKtGX9g-6Q

3. LPDP Batch 4 2016
https://telegram.me/joinchat/A0VmXUEZLFPpSQI8moKvbw

4. LPDP Jogja
- Pejuang LPDP Jogja
https://t.me/pejuangLPDPjogja
- LPDP Jogja 2017
https://t.me/joinchat/AAAAAEC7xFEl3lcMMf9cOQ

5. LPDP Padang batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAD9uhyXFXSIXCIqcdw

6. LPDP Surabaya batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEDpwLI6wlRC22ZrLw

7. LPDP Medan batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAECe5UyW20guOxVNTw

8. LPDP Makassar Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEFnOp3s6e6k9dcCVg

9. LPDP LPDP Bandung Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEFq_8gytGvveVsaxw

10. LPDP Jakarta Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEB_BAavRV4rMW5bew

11. LPDP Balikpapan Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEDz2HSXGN5wb4F3cg

12. LPDP Aceh Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEAq4PBMpkjKkrTKuA

13. LPDP Beasiswa Indonesia Timur 2017
https://t.me/joinchat/AAAAAEFjlHL9fp3Jr0H6nQ

14. LPDP Tujuan UGM
https://t.me/joinchat/AAAAAEJCMSei85Brbexy_A

15. LPDP Tujuan UI
https://t.me/joinchat/AAAAAEI85wWNGpRjPUXWEA

16. LPDP Tujuan UK
https://telegram.me/joinchat/EYVUL0AJxyY-e8Ld20oPtw

17. LPDP Tujuan Belanda
https://telegram.me/joinchat/A0VmXUDYBuuGKC-qivpUyw

---------

https://t.me/joinchat/AAAAAEC23FT26S9fPezJjA
subcribe channel untuk mendapatkan update

Sabtu, 18 Maret 2017

LEVEL RISET KITA Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar

Anton Sugimoto, [18.03.17 22:35]
LEVEL RISET KITA  (Republika, 18 Feb 2017)

Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar
Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial
Anggota Dewan Pakar IABIE

Mengapa level riset kita secara internasional rendah?  Level riset kita bahkan lebih rendah dibanding Malaysia, atau Vietnam.  Tulisan ini mencoba mengungkap beberapa sebab.

Pertama karena kita tak lagi punya "science & technology leadership" (kepemimpinan iptek). Yang saya maksud adalah kepemimpinan di level elit nasional, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Masih ingatkah kita ketika dulu ada seorang Presiden "tertipu" oleh "penemuan blue energy", dan baru mengundang para peneliti setelah masyarakat ikut tertipu (tertipu berjama'ah). Di berbagai kementerian & lembaga, juga di kampus, ego sektoral / unital (sekalipun sama-sama untuk riset) sangat terasa. Demikian juga bagaimana dengan masyarakat kita sekarang ini, melek internet tetapi gampang sekali terkecoh oleh hoax, oleh isu-isu yang "too good / too bad to be true". Ketiadaan science leadership menyebabkan tidak terbangunnya "science behaviour" (perilaku ilmiah) dan "science tradition" (tradisi ilmiah). Ini pula alasan mengapa sekarang hoax via internet tumbuh subur.  Teknologi diidentikkan dengan internet, dan berjuang di ranah teknologi diidentikkan dengan membuat cyber-army, dengan tugas tidak jauh dari menebar info yang menguntungkan kawan dan merugikan lawan politik, sekalipun itu hoax.

Di sektor tataruang, meski sudah lebih dari 25 tahun ada teknologi geospasial, namun masih banyak Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detil Tata Ruang yang belum dibuat dengan analisis geospasial, melainkan hanya berdasarkan intuisi para politisi yang dibumbui bisikan para pengembang property.  Di sektor industri, masih lebih banyak pabrik yang dibuat bukan berdasarkan kajian bahwa dalam sekian tahun kita akan mandiri di produk itu, tetapi hanya ikut dorongan principal di luar negeri atau trend pasar yang kadang sangat fluktuatif.

Akibatnya "science & technology management" kita secara umum masih "acak-acakan". Ini soal kedua.  Kesulitan mendapatkan motivasi yang kuat, kesulitan mendapatkan role model, kesulitan menentukan mana yang prioritas, bagaimana membuat roadmap, bagaimana strategic plannya, berapa prosen dari PDB / APBN / APBD harus dianggarkan ke sana, siapa saja yang seharusnya berkolaborasi untuk berkompetisi di tingkat international, dsb.  Di perguruan tinggi, mahasiswa kebingungan mencari topik riset S1, S2 maupun S3, karena dosen jarang yang punya kerangka akan riset apa?  Dosen bingung karena prodi atau fakultas juga tidak punya grand design.  Di negara maju, negara punya agenda riset yang jelas dan terukur, kemudian bisa dibagi-bagi ke seluruh campus hingga tingkat mahasiswa.  Walhasil, setelah sekian tahun, hasil-hasil riset itu dapat dimosaik menjadi keunggulan iptek nasional.

Lantas ketiga, "science & technology difusion" (penyebarluasan ilmiah) kita saat ini nyaris bisu. Masyarakat jarang tahu apa yang terjadi di dunia riset tanah air. Media massa belum banyak terlibat, apalagi membantu. Rakyat lebih akrab dengan hingar bingar politik atau dunia seputar selebriti, daripada hasil-hasil intelektual anak bangsa. Para peneliti sendiri lebih merasa didorong oleh perolehan angka kredit (kum), sehingga akhirnya juga banyak yang merasa cukup dengan angka kredit yang didapat dari publikasi ilmiah, syukur-syukur internasional, daripada bahwa hasil riset mereka benar-benar diketahui masyarakat luas untuk diaplikasikan. Mereka cukup puas merasa bahwa "with international scientific publication, we are welcome to international scientific communitiy, and growing to international level", tapi harusnya juga sadar bahwa "with international level, we get international responsibility". Kurang masifnya difusi iptek menyebabkan komunitas yang percaya kepada hoax akhir-akhir ini dirasakan meningkat, misalnya komunitas FlatEarth (yang meyakini bumi datar dan menuduh seluruh proyek ruang angkasa sebagai dusta), atau komunitas antivaksin (yang meyakini vaksin justru melemahkan manusia dan merupakan upaya depopulasi).  Kom

Anton Sugimoto, [18.03.17 22:35]
unitas-komunitas ini mencampuradukkan keraguan mereka pada iptek dengan keyakinan agama dan prasangka +konspirasi politik.

Lalu keempat, "science & technology adoption" di pemerintah (baik berupa kebijakan umum maupun implementasi di pengadaan barang & jasa) maupun di swasta (B2B) juga "masuk angin". Bahkan teknologi canggih yang kebetulan dikembangkan di sesama negara berkembang (South-South-Dialog), semisal dari Brazil, meski dikembangkan oleh pakar yang sempat berkarier 20 tahun di Jerman, sulit diadopsi di Indonesia. Antara lain karena selama proses tender sulit mendapatkan modal kerja dari bank setempat, meski mutu – harga – waktu penyerahannya lebih unggul dibanding produk sejenis dari Jepang atau China. Apalagi kalau yang murni dikembangkan di Indonesia oleh orang-orang yang baru berpengalaman di Indonesia. Terkadang, untuk uji real di lapangan saja, mencari ijinnya setengah mati. Apalagi ijin industri atau ijin perdagangan.  Kasus riset alat terapi kanker dari Dr. Warsito tempo hari menjadi salah satu contoh.  Demikian juga riset mobil listrik, yang kemudian sebagian pelakunya malah sampai dipidana.  Sebagian peneliti kita akhirnya hengkang ke luar negeri, mencari negeri tempat talentanya bisa disalurkan.  Sebagian lagi tetap di dalam negeri, namun mengabdikan diri untuk pesanan asing.  Hasil karya mereka kelak akan terpaksa kita beli dengan devisa, bahkan mungkin dengan utang luar negeri, akibat kita salah mengelola riset atau terlambat mengadopsi hasil riset anak-anak bangsa.

Dan terakhir "science & technology audit" menjadi nyaris tidak ada. Perkembangan riset iptek di tanah air jadi sulit dievaluasi dan dikontrol, karena mau dibandingkan dengan apa? Ketika leadership lemah, maka nyaris tak ada roadmap, sehingga kemajuan risetpun jadi sulit dinilai. Berapa peneliti dan penelitian yang seharusnya ada di bidang kepakaran apa, bagaimana kualitasnya, berapa output & outcome yang seharusnya dihasilkan, semua masih mirip fatamorgana.  Oleh karena itu, meski sudah ada kebijakan untuk mekanisme anggaran riset berbasis output, penulis memprediksi, dalam waktu dekat masih akan ada banyak kendala dalam implementasinya.

Tentu saja selalu ada orang-orang hebat yang menjadi perkecualian. Merekalah para pionir, yang tetap memiliki mahakarya, meski di bawah kondisi yang maha sulit ini. Semoga Allah membalas mereka dengan balasan yang lebih baik.

Senin, 13 Maret 2017

Begini Cara Belajar Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional Untuk Pemula :

Begini Cara Belajar Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional Untuk Pemula :

1. Tahap publikasi tanpa melihat index atau impact factor

Apa itu index? jelasnya ketika kita memiliki website atau blog maka tidak akan otomatis tulisan kita ada di mesin pencari google apabila website kita tidak terdaftar/index oleh google. Oleh karenanya banyak istilah index scopus, pubmed, elsivier, ebsco dll yang artinya masuk ke database mereka.

Impact factor sendiri merupakan sistem penilaian terhadapa suatu jurnal berdasarkan parameter tertentu seperti citasi, download dll yang dikeluarkan oleh badan tertentu. Disini banyak IF yang dikeluarkan oleh Indexcopernicus Value (ICV), SJIF, dan tentunya IF dari thomson reteurs yang valid digunakan oleh jurnal bereputasi saat ini.

Baca ini yuu :   Tips Membuat Artikel Ilmiah Bagian Pendahuluan Untuk Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi
Ternyata caranya relatif mudah, mulai translate penelitian yang kita bimbing dan submit di Jurnal yang berasal dari India atau negara berkembang seperti Pakistan dan Afrika.

Terkadang jurnal tersebut mencantumkan korespondensi dari negara maju padahal editor atau reviewernya dari negara berkembang. Patut dicatat, tidak semua jurnal dari negara-negara tersebut adalah predator.

Ambil hikmah dari semua ini, yang terpenting adalah memulai hasil penelitian kita diterjemahkan ke bahasa Inggris dan mulai berujung paper. Terus terang, list jurnal yang telah dipublikasi dibawah ini bahasa inggrisnya masih jauh dari sempurna, bahkan ketika saya baca malu rasanya publikasi di jurnal ini. Biarlah hanya sebagai pembelajaran.

Nasrul Wathoni, Sriwidodo, M. Panji Luhur. Effect of iontophoresis and propylene glycol on the in vitro diffusion of ethyl vitamin c cream. Int. Res J Pharm. App Sci., 2012; 2(4): 31-34

Nasrul Wathoni, Aliya Nur Hasanah, Cyntia Febrianti. MEASUREMENT OF URIC ACID LEVEL IN VITRO BY REVERSE IONTOPHORESIS. Int J Pharma Sci Tech. Vol-7, Issue – 1, January – June 2012. 27-34

Nasrul Wathoni, Jessie Sofia Pamudji, Sasantitarini Darijanto, Effect of Iontophoresis and Penetration Enhancers on The In Vitro Diffusion Of A Piroxicam Gel. Int J Pharm Pharm Sci, Vol 4, Issue 4,2012; 215-218

NasrulWathoni, AlyaNurHasanah, AnandhitaUtami. Measurement of Uric Acid Level In Vivo by Reverse Iontophoresis. Int J Emerging Tech Computational App Sci., 2013; 4(3); 319-324

Dari 4 jurnal diatas, hanya 1 yang terindex scopus yaitu di juranal IJPPS. Cukup rasanya bermain-main di jurnal yang tanpa terindex scopus. Dan ada 1 jurnal yang sudah tidak ada websitenya, yakni IJPST kacau hehe

Memang dari ke-4 jurnal diatas rata-rata harus membayar 50-100 USD, tapi itu tidak seberapa dengan insentif 10 kalinya.

Baca ini yuu :   Cara Mudah Membuat Poster Untuk Presentasi Seminar dengan Powerpoint
Lama-lama rekan kantor mulai mem-bully alias mengingatkan bahwa saatnya untuk meninggalkan publikasi di jurnal yang tanpa kejelasan index.

2. Mulai melirik index

Saat ini Dikti mensyaratkan jika ingin melakukan penelitian maka harus memiliki publikasi internasional yang terindex scopus. Nah, salah satu ciri bahwa jurnal ini terindex scopus adalah adanya DOI atau Digital Object Identifier.

Nasrul Wathoni and Susi Afrianti Rahayu. A survey of consumer expectation in community pharmacies in Bandung, Indonesia. J App Pharm Scie. DOI: 10.7324/JAPS.2014.40114; 2014;4(1);084-090

Nasrul Wathoni, Sriwidodo, Uray Camila Insani. Characterization and Optimization of Natural Maltodextrin-based Niosome. J App Pharm Scie. DOI: 10.7324/JAPS.2013.3712. Volume: 3, Issue: 7, July, 2013

Di jurnal ini mulai terasa peran reviewer, karena tidak langsung diterima. Muncul komentar-komentar yang harus kita respon dan perbaiki agar jurnal kita diterima.

3. Tinggalkan kebiasaan lama, mulai publikasi melirik Impact Factor

Rekan sekantor yang memang baru lulus PhD dari Jepang mengingatkan agar mulailah meningkatkan kualitas publikasinya di jurnal yang bukan hanya terindex scopus tapi PubMed atau Elsivier

Minggu, 12 Maret 2017

Postgraduate Scholarship 2017

Postgraduate Scholarship 2017*
Closing date: 05 March 2017
Apply: http://bit.ly/2lEXGkE

38. *The Tun Suffian Scholarship*
Closing date: 30 May 2017
Apply: http://bit.ly/2kLdGSG

39. *KPMG ASEAN Scholarship*
Closing date: 15 April 2017
Apply: http://bit.ly/2lusuCu

40. *The Yang di-Pertuan Agong Scholarship 2017*
 Closing date: 03 March 2017
Apply: http://bit.ly/2lnqjSO

41. *Khazanah-INCEIF Scholarship Programme 2017*
 Closing date: 16 March 2017
Apply: http://bit.ly/2kYFm1G

42. *London Business School Scholarships for International Students in UK, 2017*
Closing date: 07 March 2017
Apply- http://bit.ly/2lEXwcR

43. *Faculty of Engineering Excellence Scholarships (FEES) at University of Strathclyde, UK*
Closing date: 11 August 2017
Apply: http://bit.ly/2luLbG6

44. *Xiamen University Scholarship 2017*
Closing date: 30 April 2017
Apply: http://bit.ly/2luJEQj

45. *Maxis What’s Next Scholarship 2017*
Closing date: 31 March 2017
Apply: http://bit.ly/2luRXLZ

46. *Staffordshire University Scholarships for International Students*
Closing date: 31 March 2017
Apply: http://bit.ly/2luMl4u

47. *Persephone Miel Fellowship for International Journalists (USA)*
Closing date: 31 March 2017
Apply: http://bit.ly/2mbIs4g

48. *Malaysia International Scholarship 2017*
Closing date: 31 March 2017
Apply: http://bit.ly/2lFu1b5

49. *University of Lincoln: Academic Excellence Scholarship*
Closing date: 30 June 2017
Apply: http://bit.ly/2lujXzb

50. *Khazar University International Scholarship Program*
Closing date: 15 April 2017
Apply: http://bit.ly/2lEZkT0

51. *University of Reading: High Achiever’s Scholarship Award*
Closing date: 01 March 2017
Apply: http://bit.ly/2mla4Dm

52. *Postdoctoral Research Position at University of Malaya*
Closing date: 31 August 2017
Apply: http://bit.ly/2luL39p

53. *Two-Year Fully Funded Graduate Scholarships at University of Oxford in UK, 2017*
 Closing date: 09 June 2017
Apply: http://bit.ly/2lnwtm0

54. *Monash International Merit Scholarship*
Closing date: 12 June 2017
Apply: http://bit.ly/2lu6Uhj

55. *Monash International Leadership Scholarship*
Closing date: 12 June 2017
Apply: http://bit.ly/2lEWjCw

Sabtu, 04 Maret 2017

Tips Beasiswa: Menghubungi Calon Pembimbing

Evi Istiqamah, [04.03.17 19:17]
Tips Beasiswa: Menghubungi Calon Pembimbing


 Mereka yang melanjutkan sekolah pascasarjana (S2 atau S3) umumnya memerlukan pembimbing atau supervisor atau professor. Intinya, jika bersekolah yang ada komponen penelitiannya (menulis tesis atau desertasi), kehadiran pembimbing adalah wajib. Hal ini tentu tidak berlaku pada mereka yang menempuh studi S2 by coursework karena memang tidak diwajibkan membuat tesis. Program S2 semacam ini, setahu saya, ada di Australia yang bisa ditempuh dalam waktu setahun.

Kesulitan yang cukup sering dialami oleh calon mahasiswa adalah dalam melakukan kontak dengan calon pembimbing ini. Jika Anda ingin bersekolah S2 (master by research) atau S3 di Australia, Anda sudah harus mengontak calon pembimbing sebelum datang ke Australia. Biasanya, Anda bahkan perlu melakukan komunikasi sebelum lebih jauh melamar sekolah. Jika Anda ingin melamar beasiswa seperti ALA, maka Anda wajib sudah diterima di sebuah universitas. Sementara untuk bisa diterima di universitas Anda wajib punya calon pembimbing. Singkatnya, mendapatkan pembimbing ini sangatlah penting. Jika saat ini Anda sedang di Indonesia, bagaimana cara menghubungi calon pembimbing tersebut?

Lagi-lagi harus saya tegaskan bahwa saya tidak memiliki kualifikasi formal untuk menasihati cara menghubungi professor di luar negeri. Yang saya mau sampaikan adalah pengalaman saya, pengalaman teman dan hasil membaca berbagai sumber. Untuk sedikit meyakinkan Anda, saat ini saya bekerja paruh waktu sebagai International Student Adviser di University of Wollongong yang salah satu tugasnya adalah memberi masukan/informasi kepada calon mahasiswa perihal ini. Semoga berita ini membuat saya sedikit lebih mayakinkan.

Ketika diminta menjadi pemateri di UII Yogyakarta beberapa waktu lalu, saya sampaikan beberapa hal penting dalam menghubungi professor. Pertama, Anda harus tahu orang yang akan Anda hubungi ini adalah orang sibuk. Mereka sibuk karena mereka hebat. Karena mereka hebatlah maka Anda menghubunginya kan? Saya sering berkelakar, mereka bukan supervisor, tetapi superstar yang cirinya adalah tidak mudah dihubungi, waktunya selalu terbatas. Artinya, kalau email Anda tidak langsung dibalas, bersabarlah dan itu adalah hal yang wajar. Karena mereka sibuk, biasakan menggunakan bahasa yang singkat, langsung ke pokok persoalan tanpa menjadi tidak sopan. Kalau mengirim email pertama sebaiknya tidak lebih dari 200 kata. Paragraf yang sedang Anda baca ini terdiri dari 110 kata.

Hal kedua, Anda wajib mencari tahu secara intensif informasi tentang orang tersebut. Kunjungi website universitas di mana dia berkantor dan cari informasi rinci tentang dirinya. Hal penting adalah ketertarikan risetnya, publikasi yang sudah pernah ditulis dan aktivitas risetnya saat ini. Biasanya, informasi seperti itu tidak sulit dicari di websitenya. Hal selanjutnya adalah Anda sebaiknya tidak tembak langsung, meminta dia jadi supervisor pada email pertama. Mulailah dengan menyinggung karyanya yang dipublikasikan di jurnal atau di konferensi. Intinya, Anda harus benar-benar pernah membaca tulisannya, terutama yang terkait dengan topik yang ingin Anda tekuni. Jika bisa mendapatkan tulisan terbarunya di sebuah jurnal akan lebih bagus. Bagaimana caranya? Kunjungi websitenya, lihat daftar publikasinya lalu pilih yang paling sesuai. Anda biasanya akan melihat judul atau abstraknya saja di website itu, sedangkan naskah lengkap ada di jurnal yang memuatnya. Umumnya kita di Indonesia tidak memiliki akses terhadap jurnal ini tapi jangan khawatir karena jurnal itu bisa didapatkan dari berbagai sumber. Jika Anda punya teman yang sedang sekolah di luar negeri, minta dia mengunduh jurnal tersebut dan mengirimkannya pada Anda. Jika tidak ada teman di luar negeri, kontak dosen Anda ketika kuliah dulu. Kalau dosen ini cukup gaul dan banyak temannya di luar negeri (istilah kerennya, jaringannya luas) maka tidak akan sulit baginya mendapatkan jurnal tersebut. Jika Anda merasa kurang pas dengan dosen Anda karena dulu killer dan memberi nilai C saat skripsi, coba cari dosen lain. Dari sekian banyak, masak si

Evi Istiqamah, [04.03.17 19:17]
h tidak ada yang akrab? Jika benar-benar tidak ada dosen yang Anda kenal dengan baik, berarti Anda bermasalah. Coba pikirkan lagi, mengapa!

Tapi kalau benar-benar Anda tidak mengenal siapapun yang bisa membantu, saatnya mencari kenalan. Coba ikuti milis mailto:beasiswa-subscribe@yahoogroups.com. Di sana ada banyak sekali orang baik yang hobi membantu orang lain. Perhatikan anggota yang aktif dan sedang berada di luar negeri. Coba kontak beliau dengan santun, minta diunduhkan jurnal. Kalau cara Anda cukup sopan, semestinya ada yang rela membantu. Setelah membaca jurnal itu, perhatikan, resapi, pahami dan buat catatan penting tentang bagian yang akan Anda bicarakan. Selanjutnya dalam email pertama, lakukan sapaan singkat dan mulailah menyinggung topik tersebut. Cara yang baik adalah sedikit berkomentar untuk menunjukkan pemahaman, selanjutnya bisa ditutup dengan pertanyaan singkat tentang topik itu. Saya cukup sering melakukan ini dan selalu berhasil mendapat respon. Jika Anda khawatir dengan Bahasa Inggris Anda (atau bahasa asing lainnya), mintalah teman untuk membaca sebelum dikirim. Ini namanya KKN, Kawan Kawan Nolong.

Ada kalanya, profesor yang hendak Anda hubungi ini sudah memiliki mahasiswa bimbingan, baik S2 maupun S3. Dalam banyak kasus, bukan tidak mungkin salah satu bimbingannya itu adalah orang Indonesia. Daftar mahasiswa ini biasanya akan muncul di websitenya. Jika demikian, berusahalah mencari alamat email mahasiswa tersebut jika di website tesebut tidak ada. Jika iseng-iseng anda ketikkan namanya di Google, kemungkinan besar akan muncul alamat facebooknya. Adakah orang yang tidak memiliki fecebook di tahun 2010 ini? Tentu saja ada. Tapi orang itu pastilah bukan saya atau Anda. Kalaupun itu Anda, itu adalah sebuah pengecualian yang sangat langka. Selanjutnya coba kontak mahasiswa Indonesia ini dan sampaikan persoalan Anda. Ingat, setiap orang akan lebih senang menerima email yang sopan, tidak berkepanjangan, dan tidak sibuk memamerkan kehebatan sendiri. Ingat juga, semua orang suka dipuji, meskipun banyak orang yang berkata ”ah saya biasa-biasa saja kok. Saya hanya beruntung saja.” Padahal kalau pakai helm, helmnya sudah pecah karena pujian Anda.

Berkenalan lewat teman ini cukup efektif. Hanya saja kalau mahasiswa Indonesia ini ternyata sedang bermasalah dengan pembimbingnya itu, mungkin Anda belum beruntung. Mungkin dia tidak mau mengaku secara terus terang bahwa dia sedang bermasalah dengan pembimbingnya namun dari jawaban-jawabannya Anda tentu bisa menduga arahnya. Jika rasanya tidak mungkin, janga dipaksa dan tutup komunikasi dengan baik, tetap sopan dan tetap berterima kasih. Siapa tahu suatu saat Anda akan bertemu dia di bawah pembimbing yang sama. Sekedar peringatan, mahasiswa yang sedang pusing menulis tesis atau desertasi kadang aneh dan mudah emosi. Bersabarlah.

Jika semua lancar, jalan Anda mungkin lebih mudah karena memiliki ’perwakilan’ yang bisa menyampaikan keinginan Anda. Perlu diingat juga, banyak profesor yang sangat ingin menambah mahasiswa tetapi sulit menemukan kandidat yang cocok. Dengan direkomendasikan oleh muridnya sendiri, dia akan lebih yakin terhadap Anda. Jika demikian, urusan akan jadi lebih mudah.

Banyak orang yang bertanya pada saya, kalau mereka menguhubungi dua atau lebih profesor sekaligus dan semuanya memberikan respon bagaimana cara menolak salah satunya. Saya tegaskan, umumnya mereka profesional. Calon mahasiswa internasional yang baik memang kadang menjadi rebutan. Ini hal biasa dan jangan merasa bersalah. Kalau Anda menyampaikan dengan baik, terbuka dan apa adanya, mereka umumnya mengerti. Saya sekolah S2 di UNSW Sydney tetapi saat S3 saya memilih University of Wollongong yang lebih kecil. Sementara itu, supervisor S2 saya sangat ingin saya kembali ke UNSW. Saya mengatakan terus terang bahwa saya merasa akan lebih berkembang di Wollongong karena ini ini dan ini. Salah satu alasan penting adalah karena di Wollongong ada lebih banyak orang yang menekuni bidang yang sama sehingga punya teman diskusi yang lebih banyak. Supervisor S2 saya pun mengerti dan dia tetap membe

Evi Istiqamah, [04.03.17 19:17]
rikan reference letter yang sangat istimewa. Mereka memang profesional. Hanya saja, saya ingatkan lagi, jangan berbohong karena dunia itu sempit, apalagi bidang Anda sangat khusus. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Anda akan bertemu dia lagi di forum internasional. Jangan sampai Anda kagok sendiri. Intinya, memilih satu pembimbing dari sekian pilihan itu biasa, menegosiasikan topik juga biasa. Asal Anda tahu, komunikasi yang baik adalah yang sopan, elegan dan jelas dasarnya.

Satu hal penting, Anda harus tahu bahwa tidak semua orang hebat itu bule. Tidak sedikit yang heran dan terkejut ketika bersekolah di Australia atau di Amerika mendapati pembimbingnya adalah orang China atau India atau Timur Tengah. Maka dari itu, jangan selalu membayangkan bahwa orang yang membalas email Anda adalah orang bule. Tidak sedikit orang bukan bule yang justru sangat hebat di bidangnya. Ada beberapa kawan saya yang mengurungkan niat sekolah karena tahu calon pembimbingnya dari China. ”Jauh-jauh sekolah ke Australia dibimbing China” katanya. Saya mau tanya pada Anda, pernahkan Anda membayangkan Anda berkantor di belahan bumi utara atau selatan lalu suatu hari mendapat email dari seseorang dan orang itu memohon-mohon agar Anda mau menjadi pembimbing S3nya? Apa yang Anda pikirkan jika beberapa hari kemudian mahasiswa ini membatalkan gara-gara tahu kulit Anda sawo matang? Semoga Anda menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini.

Untuk meringkas, saya ulangi lagi calon pembimbing Anda adalah orang sibuk, jadi harus singkat saja. Anda wajib mencari informasi selengkap mungkin sebelum menghubungi dan jangan tembak langsung di email pertama. Ada sebaiknya mulai dengan mengapresiasi karyanya dan mengajukan pertanyaan. Bisa juga berkenalan lewat teman sesama Indonesia sehingga lebih mudah. Selain itu, perlu diingat bahwa mereka, umumnya professional, tidak mudah sakit hati, tidak juga mudah tersinggung. Meski begitu, tetaplah berkomunikasi dengan sopan, menghormati dan elegan. Saya ingatkan lagi, jangan terkejut kalau pembimbing anda bukan bule.

Hal terakhir yang mungkin sangat ingin Anda dapatkan dari tulisan ini adalah contoh email yang baik untuk menghubungi calon supervisor. Kalau Anda agak rajin sedikit saja dalam melakukan pencarian di dunia maya, ribuan contoh bisa Anda dapatkan. Ketik saja misalnya how to contact a professor di Googel. Meski begitu, saya ingatkan lagi, email ini mirip seperti personal statement, harus mencerminkan diri sendiri. Jangan asal salin dari sembarang tempat. Sempatkan untuk melakukan penyesuaian sendiri. Berikut adalah salah satu contoh yang mungkin bisa dipertimbangkan.

Dear Prof. Arsana,

I hope this finds you well.

I am Andi from Indonesia, a lecturer in the Department of Geodetic Engineering at Gadjah Mada University. I have read your paper concerning Australia’s extended continental shelf published in latest Marine Geodesy. Thank you for writing the paper. It is very helpful for me to understand the technicality of continental shelf beyond 200 M from baselines. I particularly like the way you explain article 76 of UNCLOS through simple, yet effective illustrations.

I have a question to ask about Australia’s extended continental shelf in the Antarctic. From the map in your paper I understood that the part has been delineated. However, it is not part of the official submission to the UN. Could you please elaborate more about this?

I am interested in the issue of continental shelf and thinking of pursuing a master degree with this topic. I hope you can shed a light on this issue. Thank you very much for your kind attention and I am looking forward to hearing from you at your earliest convenience.

Sincerely yours
Andi

Surat di atas mungkin sedikit agak panjang untuk mereka yang sangat sibuk. Karenanya itu bukan panduan yang harus Anda turuti. Itu hanya contoh saja yang saya rasa akan mampu mengetuk hati calon pembimbing Anda. Kalimat terakhir tentang apresiasi dan pengaharapan atas jawaban itu adalah standar surat resmi yang sopan dan elegan. Anda boleh tiru bagian yang itu.

Mendapatkan beasiswa m

Evi Istiqamah, [04.03.17 19:17]
emang ada caranya dan bisa dipelajari. Meski demikian ini adalah juga masalah common sense. Cobalah membayangkan diri sebagai professor. Calon mahasiswa seperti apa yang ideal menurut Anda?

PS. Apa bedanya Master by Research dan Master by Coursework?

Master by research merupakan sebuah program S2 dengan proporsi dominan untuk penelitian guna pembuatan tesis. Program ini biasanya berlangsung selama 2 tahun. Mata kuliah hanya sedikit (kalaupun ada),  paling banyak 3 mata kuliah saja selama 2 tahun itu. Biasanya mahasiswa akan menghabiskan semester pertama untuk kuliah dan 3 semester berikutnya full riset dan menulis tesis.

Master by coursework sebaliknya, isinya kuliah saja, tanpa kewajiban penelitian untuk menghasilkan tesis. Tesis adalah sesuatu yang tidak wajib pada Master by Coursework. Isinya full kuliah saja, membuat tugas (assignment), ujian (mid ataupun akhir) dan setelah semuanya beres, tamatlah sudah. Meski begitu, ada juga mahasiswa Master by Coursework ini mengambil mata kuliah yang berisi komponen riset yang cukup tinggi sehingga perlu membuat mini thesis. Ini biasanya dilakukan di semester akhir. Sekali lagi ini adalah keputusan sendiri, bukan merupakan sesuatu yang wajib. Program ini biasanya ditempuh dalam waktu satu tahun.

Perbedaan yang menyolok dari keduanya: waktu tempuh berbeda (Master by Research 2 tahun, Master by Coursework 1 tahun), gelarnya berbeda tetapi pengakuan di Indonesia sama saja, sama-sama S2. Kalau mau melanjutkan S3, umumnya Master by Research lebih berpeluang karena dianggap sudah berpengalaman melakukan riset mandiri. Meski demikian, kenyataannya banyak juga alumni Master by Coursework yang kemudian melanjutkan S3. Ini bukan sesuatu yang tidak mungkin.

RF Optimization Headlines