iklan gbr

Selasa, 28 Maret 2017

The 2017 World Conference on Innovation, Engineering, and Technology (IET 2017) , Kyoto, JAPAN

The 2017 World Conference on Innovation, Engineering, and Technology (IET 2017) is to be held in Kyoto, JAPAN, on June 27 - 29. The aim of this conference is to provide a platform which focuses on certain important topics of Innovation, Engineering, and Technology. Detailed information about the conference can be found on the official website. We sincerely invite your participation for this event. Submitted papers will be subject to a double-blind review process. All accepted papers will be published in the conference proceedings, under an ISSN reference, on CD-ROM support.

Conference Website: http://iainst.org/iet/
Online Submission: http://iainst.org/iet/on-line-submissions/
Enquiries: conference.IET@gmail.com
Submission Deadline: April 05, 2017

Sincerely yours,

Secretariat of IET 2017

Rabu, 22 Maret 2017

DAFTAR GRUP PEMBURU BEASISWA


 DAFTAR GRUP PEMBURU BEASISWA

1. STUNED (Belanda)
https://t.me/joinchat/AAAAAEFPgw8HuAZqqxkNLA

2. KGSP (Korea)
https://t.me/joinchat/AAAAAD_91IPaF_NrK4demQ

3. Fulbright 2017 (US)
https://t.me/fulbright17

4. Australia Awards 2017
https://telegram.me/joinchat/DpyBuUBhq4z4RjsNtYuuVg

5. NZAS 2017 (NZ)
https://t.me/joinchat/AAAAAEESzm6okMb00vYotg

6. YTB Turki
- Grup WA
https://chat.whatsapp.com/6EGB5MmYwZyJKT90M3oAYL
- Grup Line
http://line.me/R/ti/g/rt6IINIx02

7. Beasiswa Brunei 2017
https://t.me/joinchat/AAAAAEA6MlMt3XrK-mtZIQ

8. Swedish Institute (Swedia)
https://t.me/joinchat/AAAAAArrPcUNRZ9l1XkjGQ

9. Pejuang BU Kemendikbud
https://t.me/joinchat/AAAAAEJ36JThW7E7jcrI-g

10. Beasiswa BUDI
https://t.me/beasiswabudi


 KHUSUS LPDP

1. LPDP Batch 1 2017
Grup
https://telegram.me/joinchat/CwAQKED8ArMMkTix_bjaNA
Channel
https://t.me/channelpdpbatch12017

2. LPDP Afirmasi 2017
https://telegram.me/joinchat/Dh_05D__gdkFiKtGX9g-6Q

3. LPDP Batch 4 2016
https://telegram.me/joinchat/A0VmXUEZLFPpSQI8moKvbw

4. LPDP Jogja
- Pejuang LPDP Jogja
https://t.me/pejuangLPDPjogja
- LPDP Jogja 2017
https://t.me/joinchat/AAAAAEC7xFEl3lcMMf9cOQ

5. LPDP Padang batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAD9uhyXFXSIXCIqcdw

6. LPDP Surabaya batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEDpwLI6wlRC22ZrLw

7. LPDP Medan batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAECe5UyW20guOxVNTw

8. LPDP Makassar Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEFnOp3s6e6k9dcCVg

9. LPDP LPDP Bandung Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEFq_8gytGvveVsaxw

10. LPDP Jakarta Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEB_BAavRV4rMW5bew

11. LPDP Balikpapan Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEDz2HSXGN5wb4F3cg

12. LPDP Aceh Batch 1
https://t.me/joinchat/AAAAAEAq4PBMpkjKkrTKuA

13. LPDP Beasiswa Indonesia Timur 2017
https://t.me/joinchat/AAAAAEFjlHL9fp3Jr0H6nQ

14. LPDP Tujuan UGM
https://t.me/joinchat/AAAAAEJCMSei85Brbexy_A

15. LPDP Tujuan UI
https://t.me/joinchat/AAAAAEI85wWNGpRjPUXWEA

16. LPDP Tujuan UK
https://telegram.me/joinchat/EYVUL0AJxyY-e8Ld20oPtw

17. LPDP Tujuan Belanda
https://telegram.me/joinchat/A0VmXUDYBuuGKC-qivpUyw

---------

https://t.me/joinchat/AAAAAEC23FT26S9fPezJjA
subcribe channel untuk mendapatkan update

Sabtu, 18 Maret 2017

LEVEL RISET KITA Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar

Anton Sugimoto, [18.03.17 22:35]
LEVEL RISET KITA  (Republika, 18 Feb 2017)

Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar
Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial
Anggota Dewan Pakar IABIE

Mengapa level riset kita secara internasional rendah?  Level riset kita bahkan lebih rendah dibanding Malaysia, atau Vietnam.  Tulisan ini mencoba mengungkap beberapa sebab.

Pertama karena kita tak lagi punya "science & technology leadership" (kepemimpinan iptek). Yang saya maksud adalah kepemimpinan di level elit nasional, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Masih ingatkah kita ketika dulu ada seorang Presiden "tertipu" oleh "penemuan blue energy", dan baru mengundang para peneliti setelah masyarakat ikut tertipu (tertipu berjama'ah). Di berbagai kementerian & lembaga, juga di kampus, ego sektoral / unital (sekalipun sama-sama untuk riset) sangat terasa. Demikian juga bagaimana dengan masyarakat kita sekarang ini, melek internet tetapi gampang sekali terkecoh oleh hoax, oleh isu-isu yang "too good / too bad to be true". Ketiadaan science leadership menyebabkan tidak terbangunnya "science behaviour" (perilaku ilmiah) dan "science tradition" (tradisi ilmiah). Ini pula alasan mengapa sekarang hoax via internet tumbuh subur.  Teknologi diidentikkan dengan internet, dan berjuang di ranah teknologi diidentikkan dengan membuat cyber-army, dengan tugas tidak jauh dari menebar info yang menguntungkan kawan dan merugikan lawan politik, sekalipun itu hoax.

Di sektor tataruang, meski sudah lebih dari 25 tahun ada teknologi geospasial, namun masih banyak Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) maupun Rencana Detil Tata Ruang yang belum dibuat dengan analisis geospasial, melainkan hanya berdasarkan intuisi para politisi yang dibumbui bisikan para pengembang property.  Di sektor industri, masih lebih banyak pabrik yang dibuat bukan berdasarkan kajian bahwa dalam sekian tahun kita akan mandiri di produk itu, tetapi hanya ikut dorongan principal di luar negeri atau trend pasar yang kadang sangat fluktuatif.

Akibatnya "science & technology management" kita secara umum masih "acak-acakan". Ini soal kedua.  Kesulitan mendapatkan motivasi yang kuat, kesulitan mendapatkan role model, kesulitan menentukan mana yang prioritas, bagaimana membuat roadmap, bagaimana strategic plannya, berapa prosen dari PDB / APBN / APBD harus dianggarkan ke sana, siapa saja yang seharusnya berkolaborasi untuk berkompetisi di tingkat international, dsb.  Di perguruan tinggi, mahasiswa kebingungan mencari topik riset S1, S2 maupun S3, karena dosen jarang yang punya kerangka akan riset apa?  Dosen bingung karena prodi atau fakultas juga tidak punya grand design.  Di negara maju, negara punya agenda riset yang jelas dan terukur, kemudian bisa dibagi-bagi ke seluruh campus hingga tingkat mahasiswa.  Walhasil, setelah sekian tahun, hasil-hasil riset itu dapat dimosaik menjadi keunggulan iptek nasional.

Lantas ketiga, "science & technology difusion" (penyebarluasan ilmiah) kita saat ini nyaris bisu. Masyarakat jarang tahu apa yang terjadi di dunia riset tanah air. Media massa belum banyak terlibat, apalagi membantu. Rakyat lebih akrab dengan hingar bingar politik atau dunia seputar selebriti, daripada hasil-hasil intelektual anak bangsa. Para peneliti sendiri lebih merasa didorong oleh perolehan angka kredit (kum), sehingga akhirnya juga banyak yang merasa cukup dengan angka kredit yang didapat dari publikasi ilmiah, syukur-syukur internasional, daripada bahwa hasil riset mereka benar-benar diketahui masyarakat luas untuk diaplikasikan. Mereka cukup puas merasa bahwa "with international scientific publication, we are welcome to international scientific communitiy, and growing to international level", tapi harusnya juga sadar bahwa "with international level, we get international responsibility". Kurang masifnya difusi iptek menyebabkan komunitas yang percaya kepada hoax akhir-akhir ini dirasakan meningkat, misalnya komunitas FlatEarth (yang meyakini bumi datar dan menuduh seluruh proyek ruang angkasa sebagai dusta), atau komunitas antivaksin (yang meyakini vaksin justru melemahkan manusia dan merupakan upaya depopulasi).  Kom

Anton Sugimoto, [18.03.17 22:35]
unitas-komunitas ini mencampuradukkan keraguan mereka pada iptek dengan keyakinan agama dan prasangka +konspirasi politik.

Lalu keempat, "science & technology adoption" di pemerintah (baik berupa kebijakan umum maupun implementasi di pengadaan barang & jasa) maupun di swasta (B2B) juga "masuk angin". Bahkan teknologi canggih yang kebetulan dikembangkan di sesama negara berkembang (South-South-Dialog), semisal dari Brazil, meski dikembangkan oleh pakar yang sempat berkarier 20 tahun di Jerman, sulit diadopsi di Indonesia. Antara lain karena selama proses tender sulit mendapatkan modal kerja dari bank setempat, meski mutu – harga – waktu penyerahannya lebih unggul dibanding produk sejenis dari Jepang atau China. Apalagi kalau yang murni dikembangkan di Indonesia oleh orang-orang yang baru berpengalaman di Indonesia. Terkadang, untuk uji real di lapangan saja, mencari ijinnya setengah mati. Apalagi ijin industri atau ijin perdagangan.  Kasus riset alat terapi kanker dari Dr. Warsito tempo hari menjadi salah satu contoh.  Demikian juga riset mobil listrik, yang kemudian sebagian pelakunya malah sampai dipidana.  Sebagian peneliti kita akhirnya hengkang ke luar negeri, mencari negeri tempat talentanya bisa disalurkan.  Sebagian lagi tetap di dalam negeri, namun mengabdikan diri untuk pesanan asing.  Hasil karya mereka kelak akan terpaksa kita beli dengan devisa, bahkan mungkin dengan utang luar negeri, akibat kita salah mengelola riset atau terlambat mengadopsi hasil riset anak-anak bangsa.

Dan terakhir "science & technology audit" menjadi nyaris tidak ada. Perkembangan riset iptek di tanah air jadi sulit dievaluasi dan dikontrol, karena mau dibandingkan dengan apa? Ketika leadership lemah, maka nyaris tak ada roadmap, sehingga kemajuan risetpun jadi sulit dinilai. Berapa peneliti dan penelitian yang seharusnya ada di bidang kepakaran apa, bagaimana kualitasnya, berapa output & outcome yang seharusnya dihasilkan, semua masih mirip fatamorgana.  Oleh karena itu, meski sudah ada kebijakan untuk mekanisme anggaran riset berbasis output, penulis memprediksi, dalam waktu dekat masih akan ada banyak kendala dalam implementasinya.

Tentu saja selalu ada orang-orang hebat yang menjadi perkecualian. Merekalah para pionir, yang tetap memiliki mahakarya, meski di bawah kondisi yang maha sulit ini. Semoga Allah membalas mereka dengan balasan yang lebih baik.

Senin, 13 Maret 2017

Begini Cara Belajar Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional Untuk Pemula :

Begini Cara Belajar Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional Untuk Pemula :

1. Tahap publikasi tanpa melihat index atau impact factor

Apa itu index? jelasnya ketika kita memiliki website atau blog maka tidak akan otomatis tulisan kita ada di mesin pencari google apabila website kita tidak terdaftar/index oleh google. Oleh karenanya banyak istilah index scopus, pubmed, elsivier, ebsco dll yang artinya masuk ke database mereka.

Impact factor sendiri merupakan sistem penilaian terhadapa suatu jurnal berdasarkan parameter tertentu seperti citasi, download dll yang dikeluarkan oleh badan tertentu. Disini banyak IF yang dikeluarkan oleh Indexcopernicus Value (ICV), SJIF, dan tentunya IF dari thomson reteurs yang valid digunakan oleh jurnal bereputasi saat ini.

Baca ini yuu :   Tips Membuat Artikel Ilmiah Bagian Pendahuluan Untuk Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi
Ternyata caranya relatif mudah, mulai translate penelitian yang kita bimbing dan submit di Jurnal yang berasal dari India atau negara berkembang seperti Pakistan dan Afrika.

Terkadang jurnal tersebut mencantumkan korespondensi dari negara maju padahal editor atau reviewernya dari negara berkembang. Patut dicatat, tidak semua jurnal dari negara-negara tersebut adalah predator.

Ambil hikmah dari semua ini, yang terpenting adalah memulai hasil penelitian kita diterjemahkan ke bahasa Inggris dan mulai berujung paper. Terus terang, list jurnal yang telah dipublikasi dibawah ini bahasa inggrisnya masih jauh dari sempurna, bahkan ketika saya baca malu rasanya publikasi di jurnal ini. Biarlah hanya sebagai pembelajaran.

Nasrul Wathoni, Sriwidodo, M. Panji Luhur. Effect of iontophoresis and propylene glycol on the in vitro diffusion of ethyl vitamin c cream. Int. Res J Pharm. App Sci., 2012; 2(4): 31-34

Nasrul Wathoni, Aliya Nur Hasanah, Cyntia Febrianti. MEASUREMENT OF URIC ACID LEVEL IN VITRO BY REVERSE IONTOPHORESIS. Int J Pharma Sci Tech. Vol-7, Issue – 1, January – June 2012. 27-34

Nasrul Wathoni, Jessie Sofia Pamudji, Sasantitarini Darijanto, Effect of Iontophoresis and Penetration Enhancers on The In Vitro Diffusion Of A Piroxicam Gel. Int J Pharm Pharm Sci, Vol 4, Issue 4,2012; 215-218

NasrulWathoni, AlyaNurHasanah, AnandhitaUtami. Measurement of Uric Acid Level In Vivo by Reverse Iontophoresis. Int J Emerging Tech Computational App Sci., 2013; 4(3); 319-324

Dari 4 jurnal diatas, hanya 1 yang terindex scopus yaitu di juranal IJPPS. Cukup rasanya bermain-main di jurnal yang tanpa terindex scopus. Dan ada 1 jurnal yang sudah tidak ada websitenya, yakni IJPST kacau hehe

Memang dari ke-4 jurnal diatas rata-rata harus membayar 50-100 USD, tapi itu tidak seberapa dengan insentif 10 kalinya.

Baca ini yuu :   Cara Mudah Membuat Poster Untuk Presentasi Seminar dengan Powerpoint
Lama-lama rekan kantor mulai mem-bully alias mengingatkan bahwa saatnya untuk meninggalkan publikasi di jurnal yang tanpa kejelasan index.

2. Mulai melirik index

Saat ini Dikti mensyaratkan jika ingin melakukan penelitian maka harus memiliki publikasi internasional yang terindex scopus. Nah, salah satu ciri bahwa jurnal ini terindex scopus adalah adanya DOI atau Digital Object Identifier.

Nasrul Wathoni and Susi Afrianti Rahayu. A survey of consumer expectation in community pharmacies in Bandung, Indonesia. J App Pharm Scie. DOI: 10.7324/JAPS.2014.40114; 2014;4(1);084-090

Nasrul Wathoni, Sriwidodo, Uray Camila Insani. Characterization and Optimization of Natural Maltodextrin-based Niosome. J App Pharm Scie. DOI: 10.7324/JAPS.2013.3712. Volume: 3, Issue: 7, July, 2013

Di jurnal ini mulai terasa peran reviewer, karena tidak langsung diterima. Muncul komentar-komentar yang harus kita respon dan perbaiki agar jurnal kita diterima.

3. Tinggalkan kebiasaan lama, mulai publikasi melirik Impact Factor

Rekan sekantor yang memang baru lulus PhD dari Jepang mengingatkan agar mulailah meningkatkan kualitas publikasinya di jurnal yang bukan hanya terindex scopus tapi PubMed atau Elsivier

Minggu, 12 Maret 2017

Postgraduate Scholarship 2017

Postgraduate Scholarship 2017*
Closing date: 05 March 2017
Apply: http://bit.ly/2lEXGkE

38. *The Tun Suffian Scholarship*
Closing date: 30 May 2017
Apply: http://bit.ly/2kLdGSG

39. *KPMG ASEAN Scholarship*
Closing date: 15 April 2017
Apply: http://bit.ly/2lusuCu

40. *The Yang di-Pertuan Agong Scholarship 2017*
 Closing date: 03 March 2017
Apply: http://bit.ly/2lnqjSO

41. *Khazanah-INCEIF Scholarship Programme 2017*
 Closing date: 16 March 2017
Apply: http://bit.ly/2kYFm1G

42. *London Business School Scholarships for International Students in UK, 2017*
Closing date: 07 March 2017
Apply- http://bit.ly/2lEXwcR

43. *Faculty of Engineering Excellence Scholarships (FEES) at University of Strathclyde, UK*
Closing date: 11 August 2017
Apply: http://bit.ly/2luLbG6

44. *Xiamen University Scholarship 2017*
Closing date: 30 April 2017
Apply: http://bit.ly/2luJEQj

45. *Maxis What’s Next Scholarship 2017*
Closing date: 31 March 2017
Apply: http://bit.ly/2luRXLZ

46. *Staffordshire University Scholarships for International Students*
Closing date: 31 March 2017
Apply: http://bit.ly/2luMl4u

47. *Persephone Miel Fellowship for International Journalists (USA)*
Closing date: 31 March 2017
Apply: http://bit.ly/2mbIs4g

48. *Malaysia International Scholarship 2017*
Closing date: 31 March 2017
Apply: http://bit.ly/2lFu1b5

49. *University of Lincoln: Academic Excellence Scholarship*
Closing date: 30 June 2017
Apply: http://bit.ly/2lujXzb

50. *Khazar University International Scholarship Program*
Closing date: 15 April 2017
Apply: http://bit.ly/2lEZkT0

51. *University of Reading: High Achiever’s Scholarship Award*
Closing date: 01 March 2017
Apply: http://bit.ly/2mla4Dm

52. *Postdoctoral Research Position at University of Malaya*
Closing date: 31 August 2017
Apply: http://bit.ly/2luL39p

53. *Two-Year Fully Funded Graduate Scholarships at University of Oxford in UK, 2017*
 Closing date: 09 June 2017
Apply: http://bit.ly/2lnwtm0

54. *Monash International Merit Scholarship*
Closing date: 12 June 2017
Apply: http://bit.ly/2lu6Uhj

55. *Monash International Leadership Scholarship*
Closing date: 12 June 2017
Apply: http://bit.ly/2lEWjCw

RF Optimization Headlines