Disrupsi dunia kuliner dimulai ?
Akhir akhir ini dunia kuliner ibukota dihebohkan oleh promosi gila2an yang dilakukan oleh startup fintech yang kian gencar melakulan akuisisi pelanggan.
Coba tengok di beberapa mall favorit. Paket Bakso ini Rp. 4000. Kopi expresso itu Rp. 2000. Paket semangkok Nasi ayam Rp. 5000. Dan lain lain. Sudah termasuk service. Fasilitas ruangan ber AC dengan interior keren. Harga gila, jauh lebih murah daripada harga jual di warung tenda!
Itu baru yang dilakukan salah satu payment gateway berlogo biru, sebut saja namanya Gopek (bukan nama sebenernya)
Lain lagi yang dilakukan aplikasi travelaku (nama samaran), penjual tiket online, yang juga mulai gencar menawarkan voucher-voucher murah dari restoran/kuliner branded dengan subsidi diskon sampai 60%. Makanan yg biasanya dijual seporsi 50 rb an, cukup dibayar dengan 20rb. Sisanya 30rb si aplikasi yang bayarin.
Persaingan makin memanas. Aplikaso Oso (juga nama samaran), yang sejak berdiri sudah fokus sebagai payment gateway, juga turut meramaikan peperangan dengan diskon cashback dari 10% hingga 30%.
Grebek, sang unicorn Ojek online jg tak mau kalah. Coba saja masuk aplikasinya, macam-macam diskon kuliner spektakuler ditawarkan demi meningkatkan pendapatan perusahaan, tentunya dengan melalui fintech payment gateway yang dimilikinya. Belakangan aplikasi ini berkolaborasi menggunakan payment gateway Oso untuk kemudahan pelanggan bertransaksi.
Sejatinya perang promosi yang terjadi adalah untuk menambah jumlah pengguna aplikasi, yang ujungnya adalah menambah jumlah penyimpanan uang digital pada aplikasi tersebut.
Masing2 berusaha mencari partner usaha kuliner. Dapet uang dari warung/usaha kuliner yg selama ini tidak pernah mereka dirikan. Targetnya bervariasi. Ada yang mengincar pendapatan dari dine in (makan di tempat), ada yang take away (bungkus), ada yg jualan voucher makan yang bisa dibagikan ke kolega atau saudara.
Disrupsi perlahan mulai terjadi. Banting2an harga tak terhindarkan. Masyarakat yg tadinya jarang masuk restoran, jadi banyak pilihan dengan harga yg sangat terjangkau. Yang biasanya makan di warteg atau kantin warung belakang kantor, mudah mengupgrade gaya hidup dengan makan di restoran favorit dengan harga yang jauh lebih murah. Dengan maraknya promo kuliner super murah, pelanggan tentunya adalah pihak yang paling diuntungkan.
Dulu perangnya di tarif angkutan. Taksi, angkot jadi korbannya. Sekarang merangsek ke kuliner. Apakah kantin-kantin dan warung tenda bakal terganggu ?
Jika perang rebutan 'nasabah' ini terus terjadi dan makin masif, kedepan ini akan jadi masalah sekaligus peluang bagi pemilik usaha2 kuliner. Serba salah. Tidak ikutan promosi bakal kegencet warung sebelah yang lagi banting harga dapet subsidi. Kalau ikutan juga musti mikir bahan baku apa yg tahan dibanting sampai perang usai. Set up menu yang cukup lebar marginnya untuk dibagi dengan pihak fintech. Karena pihak fintech menginginkan potongan harga yang besar untuk menarik minat pelanggan.
Efeknya saya rasa dalam jangka pendek hanya merugikan satu atau beberapa usaha kuliner tetangga , dan sangat menguntungkan usaha lain yang sedang disubsidi. Tetapi dalam jangka panjang jika polanya terus sama, akan mengoreksi harga2 jasa kuliner, sedemikian sehingga jika sampai usaha kuliner secara masif tidak bisa menutup biaya sewa, maka harga2 sewa/property pun akan ikut terkoreksi tajam. Atau jika harga sewa tidak banyak terkoreksi, maka cara penyajian, cara pelayanan (proses bisnis dan bisnis model ) harus segera dirubah supaya tetap efisien. Inilah tantangan sekaligus peluang bisnis kuliner masakini dengan hadirnya ekonomi digital.
Bagaimana agar bisnis kuliner kita menjadi primadona yang disubsidi fintech, bagaimana meningkatkan daya tawar produk sehingga komisi untuk fintech bisa ditekan serendah mungkin, bagaimana profit tetap bagus walaupun terjadi perang promosi fintech. Kurang lebih itu, diluar masalah2 operasional harian tentunya.
Cahsless society suatu saat akan menjadi kenyataan. Cepat atau lambat. Fintech yang awalnya sering kasih subsidi dan diskon besar untuk pelanggan dan kasih sales buat merchant, tentunya ingin suatu saat uangnya kembali.
Ketika jumlah uang digital bertambah, tentunya akan didapat pula data-data digital. Dengan cara ini tentunya mereka tahu sekali pola-pola penjualan merchant. menu-menu apa yang paling laku di pasaran, berapa pembelian rata2, daerah mana yang paling banyak menghasilkan penjualan. Daerah mana suka dengan menu apa. Dst.
Kalau kuliner berhasil digarap dengan baik, mungkin sekali merambah bidang lain seperti barang-barang fashion branded. Atau bidang2 jasa lain yang cukup lebar untuk dishare marginnya.
Setelah data pelanggan sudah didapat, pola pelanggan sudah teramati dengan baik, deposit uang digital juga semakin besar, maka bukan tidak mungkin jika suatu saat fintech menjelma menjadi bank-bank swasta generasi baru. Yang awalnya bank sebagai partner fintech dalam melakukan top up saldo, bisa jadi akan berdiri sendiri sebuah bank format baru. Yang lebih efisien dan betul2 memahami kebiasaan pelanggannya.
Jika abang-abang ojol dulu hanya bertugas untuk mengantar barang, mengantar makanan. Sekarang beberapa dari mereka sudah mulai sambil bertugas sebagai teller untuk memasukkan uang pelanggan ke aplikasi fintech mereka. Tentunya ada bonus poin menarik untuk itu.
Kedepan, sangatlah mungkin mereka juga bertugas sebagai debt collector manakala sudah tiba saatnya sang Fintech menjelma menjadi sebuah bank komersial.
Bisa Jadi, ketika seorang pelanggan memesan makanan lewat aplikasi, si Abang Ojek yang mengantar pesanan pelanggan bisa berkata " Silahkan Pak ini pesanan 10 box paket Bebek Dowernya. Oh ya, ada titipan pesan dari kantor katanya Bapak belum melunasi cicilan motor bulan ini. Apa bisa kami ambil sekalian ? "
Jreng jreeng... Jiaahh.. :))
iklan gbr
Senin, 19 November 2018
Kamis, 25 Oktober 2018
INDONESIA NEGARA KE-21 YG MENOLAK HTI
INDONESIA NEGARA KE-21 YG MENOLAK HTI
Berikut negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir:
1. Mesir
Dibubarkan: 1974
Alasan: Terlibat upaya kudeta
2. Suriah
Dibubarkan: 1998
Alasan: Dilarang melalui jalur ekstra yudisial
3. Turki
Dibubarkan: 2004
Alasan: Organisasi teroris
4. Rusia
Dibubarkan: 2003
Alasan: Organisasi teroris
5. Jerman
Dibubarkan: 2003
Alasan: Penyebar propraganda kekerasan dan anti semit Yahudi
6. Malaysia
Dibubarkan: 2015
Alasan: Dianggap kelompok menyimpang
7. Yordania
Dibubarkan: 1953
Alasan: Mengancam kedaulatan negara
8. Arab Saudi
Dibubarkan: Era Abdulaziz
Alasan: Ancaman negara
9. Libya
Dibubarkan: Era Moamar Khadafi
Alasan: Organisasi yang menimbulkan keresahan
10. Pakistan
Dibubarkan: 2016
Alasan: Dianggap ancaman negara
11. Uzbekistan
Dibubarkan: 1999
Alasan: Menjadi dalang pengeboman di Tashkent
12. Kirgistan
Dibubarkan: 2004
Alasan: Kelompok ekstrem
13. Tajikistan
Dibubarkan: 2005
Alasan: Terlibat aktivitas terorisme
14. Kazakhstan
Dibubarkan: 2005
Alasan: Terlibat terorisme
15. China
Dibubarkan: 2006
Alasan: Melakukan kegiatan teror
16. Bangladesh
Dibubarkan: 2009
Alasan: Terlibat aktivitas militan dan mengancam kedamaian
17. Perancis
Dibubarkan: -
Alasan: Organisasi ilegal
18. Spanyol
Dibubarkan: 2008
Alasan: Organisasi ilegal
19. Tajikistan
Dibubarkan: 2001
Alasan: Sejumlah anggotanya dipenjara
20. Tunisia
Dibubarkan: -
Alasan: Merusak ketertiban umum
21. Indonesia
Dibubarkan: 2017
Alasan: Bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi, mengancam
ketertiban masyarakat, dan membahayakan keutuhan negara
Minggu, 30 September 2018
Materi penulisan jurnal ilmiah bereputasi oleh Prof. Teddy Mantoro dari Sampoerna University
Materi penulisan jurnal ilmiah bereputasi oleh Prof. Teddy Mantoro dari Sampoerna University
https://drive.google.com/file/d/1IZH4Rmpsn8KtfbmpAQLkmcPvscKUQ99T/view
https://drive.google.com/file/d/1IZH4Rmpsn8KtfbmpAQLkmcPvscKUQ99T/view
Kamis, 13 September 2018
Apresiasi terhadap Jokowi Pemimpin kita utk pidatonya
Apresiasi terhadap Pemimpin kita utk pidatonya:
"Apa yang sedang terjadi dalam perekonomian dunia hari ini adalah kita sedang menuju perang tanpa batas [Infinity War]. Kita belum pernah menghadapi perang dagang dengan ekskalasi seperti saat ini sejak Great Depression di tahun 1930-an. Namun, yakinlah saya dan rekan Avengers saya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagia populasi dunia.
Thanos ingin menghabisi separuh populasi sehingga sisanya yang bertahan dapat menikmati sumber daya per kapita sebesar dua kali lipatnya. Namun, ada kesalahan mendasar dari asumsi ini. Thanos yakin sumber daya di planet bumi terbatas. Faktanya adalah sumber daya alam yang tersedia bagi umat manusia bukannya terbatas, namun tidak terbatas.
Perkembangan teknologi telah menghasilkan peningkatan efisiensi, memberi kita kemampuan untuk memperbanyak sumber daya kita lebih banyak dari sebelumnya.
Penelitian ilmiah membuktikan, ekonomi kita sekarang lebih 'ringan' dalam hal berat fisik dan volume fisik. Hanya dalam 12 tahun terakhir, total berat dan volume televisi, kamera, pemutar music, buku, surat kabar, dan majalah telah tergantikan oleh ringannya ponsel pintar dan tablet.
Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang berat telah tergantikan oleh panel surya dan kincir angin yang ringan.
Kedua, saat perekonomian kita terus berkembang, ekonomi tidak lagi didorong oleh sumber daya alam yang terbatas, melainkan oleh sumber daya manusia yang tidak terbatas.
Generasi muda Indonesia menjadi motor ledakan e-commerce dan ekonomi digital yang transformasional. Saat ini, kami memiliki empat unicorn atau startup bervaluasi di atas US$1 miliar di Indonesia dan tentu saja sumber daya manusia sekarang mendorong revolusi industri 4.0. Pada 4 April lalu kami telah meluncurkan program pemerintah Revolusi Industri 4.0 yang diberi nama "Making Indonesia 4.0".
Pertama, saya percaya bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menciptakan banyak lapangan kerja BUKAN MENGHILANGKAN tidak hanya dalam jangka panjang melainkan juga dalam jangka pendek.
Kedua, saya percaya Revolusi Industri 4.0 tidak akan meningkatkan kesenjangan namun justru menurunkannya karena salah satu aspek penting dari Revolusi Industri 4.0 adalah penurunan biaya secara dramatis bagi barang dan jasa sehingga menyebabkan produk tersebut lebih murah dan mudah dijangkau bagi kalangan berpendapatan rendah.
Ketiga, saya percaya ASEAN termasuk Indonesia akan menjadi yang terdepan dalam Revolusi Industri 4.0. Namun, kita harus mencegah perang dagang ini berkembang menjadi perang tanpa batas.
Anda mungkin bertanya-tanya siapa Thanos? Hadirin sekalian, Thanos bukanlah seorang individu. Maaf sudah membuat Anda kecewa. Thanos ada di dalam diri kita semua. THANOS adalah paham yang salah bahwa untuk berhasil, orang lain harus menyerah. Ia adalah persepsi yang salah bahwa keberhasilan sekelompok orang adalah kegagalan bagi yang lainnya.
Sehingga, Infinity War bukan hanya tentang perang dagang kita tetapi tentang setiap dari diri kita mempelajari ulang sejarah bahwa dengan kreativitas, energi, kolaborasi, dan kerja sama umat manusia akan menikmati sumber daya yang melimpah dan tidak terbatas bukannya perang tak berkesudahan".
"Apa yang sedang terjadi dalam perekonomian dunia hari ini adalah kita sedang menuju perang tanpa batas [Infinity War]. Kita belum pernah menghadapi perang dagang dengan ekskalasi seperti saat ini sejak Great Depression di tahun 1930-an. Namun, yakinlah saya dan rekan Avengers saya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagia populasi dunia.
Thanos ingin menghabisi separuh populasi sehingga sisanya yang bertahan dapat menikmati sumber daya per kapita sebesar dua kali lipatnya. Namun, ada kesalahan mendasar dari asumsi ini. Thanos yakin sumber daya di planet bumi terbatas. Faktanya adalah sumber daya alam yang tersedia bagi umat manusia bukannya terbatas, namun tidak terbatas.
Perkembangan teknologi telah menghasilkan peningkatan efisiensi, memberi kita kemampuan untuk memperbanyak sumber daya kita lebih banyak dari sebelumnya.
Penelitian ilmiah membuktikan, ekonomi kita sekarang lebih 'ringan' dalam hal berat fisik dan volume fisik. Hanya dalam 12 tahun terakhir, total berat dan volume televisi, kamera, pemutar music, buku, surat kabar, dan majalah telah tergantikan oleh ringannya ponsel pintar dan tablet.
Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang berat telah tergantikan oleh panel surya dan kincir angin yang ringan.
Kedua, saat perekonomian kita terus berkembang, ekonomi tidak lagi didorong oleh sumber daya alam yang terbatas, melainkan oleh sumber daya manusia yang tidak terbatas.
Generasi muda Indonesia menjadi motor ledakan e-commerce dan ekonomi digital yang transformasional. Saat ini, kami memiliki empat unicorn atau startup bervaluasi di atas US$1 miliar di Indonesia dan tentu saja sumber daya manusia sekarang mendorong revolusi industri 4.0. Pada 4 April lalu kami telah meluncurkan program pemerintah Revolusi Industri 4.0 yang diberi nama "Making Indonesia 4.0".
Pertama, saya percaya bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menciptakan banyak lapangan kerja BUKAN MENGHILANGKAN tidak hanya dalam jangka panjang melainkan juga dalam jangka pendek.
Kedua, saya percaya Revolusi Industri 4.0 tidak akan meningkatkan kesenjangan namun justru menurunkannya karena salah satu aspek penting dari Revolusi Industri 4.0 adalah penurunan biaya secara dramatis bagi barang dan jasa sehingga menyebabkan produk tersebut lebih murah dan mudah dijangkau bagi kalangan berpendapatan rendah.
Ketiga, saya percaya ASEAN termasuk Indonesia akan menjadi yang terdepan dalam Revolusi Industri 4.0. Namun, kita harus mencegah perang dagang ini berkembang menjadi perang tanpa batas.
Anda mungkin bertanya-tanya siapa Thanos? Hadirin sekalian, Thanos bukanlah seorang individu. Maaf sudah membuat Anda kecewa. Thanos ada di dalam diri kita semua. THANOS adalah paham yang salah bahwa untuk berhasil, orang lain harus menyerah. Ia adalah persepsi yang salah bahwa keberhasilan sekelompok orang adalah kegagalan bagi yang lainnya.
Sehingga, Infinity War bukan hanya tentang perang dagang kita tetapi tentang setiap dari diri kita mempelajari ulang sejarah bahwa dengan kreativitas, energi, kolaborasi, dan kerja sama umat manusia akan menikmati sumber daya yang melimpah dan tidak terbatas bukannya perang tak berkesudahan".
Manusia-manusia Rigid, Akan Sulit Sendiri By Rhenald Kasali
Manusia-manusia Rigid, Akan Sulit Sendiri By Rhenald Kasali
(oleh: Rhenald Kasali)
KOMPAS.com - Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karir dan perusahannya.
Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama seperti karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya bisa mengeluh.
Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarir di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.
Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).
Solved!
Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.
Serangan Tenaga Kerja
Belum lama ini kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, sampai serangan tenaga kerja dari China.
Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seakan-akan tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?
Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapatkan wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.
Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan tentang negerinya. “Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis.” Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.
Susah? Kerja Lebih Profesional!
Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. “Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi,” ujarnya.
Kepada putra saya ia mengajari. "Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.
Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa.
Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. “Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia.” Saya pun terdiam.
Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, “Suruh orang-orang itu kerja di sini saja.”
Tak lama kemudian ia pun meneruskan. “Kalau sudah kerja di sini baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile.”
Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. “Mana bisa konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja,” ujarnya.
Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan. Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.
Bangsa Merdeka Jangan Cengeng
Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negri.
Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.
Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan.
Lalu dari grup WA para alumnus sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.
Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa. Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.
Syukuri yang sudah didapat. hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.
Kalau Anda merasa Indonesia sudah “berbahaya” ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.
(Sumber: Kompas.com)
(oleh: Rhenald Kasali)
KOMPAS.com - Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karir dan perusahannya.
Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama seperti karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya bisa mengeluh.
Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarir di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.
Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).
Solved!
Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.
Serangan Tenaga Kerja
Belum lama ini kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, sampai serangan tenaga kerja dari China.
Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seakan-akan tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?
Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapatkan wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.
Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan tentang negerinya. “Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis.” Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.
Susah? Kerja Lebih Profesional!
Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. “Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi,” ujarnya.
Kepada putra saya ia mengajari. "Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.
Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa.
Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. “Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia.” Saya pun terdiam.
Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, “Suruh orang-orang itu kerja di sini saja.”
Tak lama kemudian ia pun meneruskan. “Kalau sudah kerja di sini baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile.”
Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. “Mana bisa konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja,” ujarnya.
Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan. Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.
Bangsa Merdeka Jangan Cengeng
Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negri.
Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.
Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan.
Lalu dari grup WA para alumnus sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.
Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa. Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.
Syukuri yang sudah didapat. hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.
Kalau Anda merasa Indonesia sudah “berbahaya” ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.
(Sumber: Kompas.com)
Minggu, 19 Agustus 2018
Jumat, 17 Agustus 2018
PRESS RELEASE Kemenristekdikti Umumkan Klasterisasi Perguruan Tinggi Indonesia Tahun 2018
PRESS
RELEASE
Kemenristekdikti Umumkan Klasterisasi Perguruan Tinggi Indonesia Tahun 2018
Jakarta – Kementerian Riset, Teknologi, dan
Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia kembali mengumumkan
klasterisasi perguruan tinggi Indonesia tahun
2018 bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik
Indonesia (RI) ke-73 yang berlokasi di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (PUSPIPTEK), Serpong. Klasterisasi ini
dilakukan untuk memetakan perguruan tinggi Indonesia yang berada di bawah
naungan Kemenristekdikti guna meningkatkan mutu perguruan tinggi secara berkelanjutan
dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi. Selain itu, klasterisasi dapat
dijadikan dasar bagi Kemenristekdikti untuk melakukan pembinaan perguruan
tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia, penyusunan
kebijakan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi, serta memberikan
informasi kepada masyarakat umum mengenai performa perguruan tinggi di Indonesia.
Penilaian performa perguruan tinggi pada tahun ini
secara garis besar terdapat beberapa penyesuaian sebagai hasil evaluasi dari
penilaian tahun 2017. Pada tanggal 17 Agustus 2018 ini, Kemenristekdikti mengeluarkan hasil
klasterisasi hanya terhadap kelompok perguruan tinggi non-vokasi, yaitu
Universitas, Institut, dan Sekolah Tinggi. Adapun kelompok perguruan tinggi
vokasi, akan terus dianalisa untuk memperoleh indikator yang lebih tepat dalam
mencerminkan performa perguruan tinggi vokasi.
Pada tahun 2018 ini, terdapat
penambahan satu komponen utama yaitu kinerja inovasi. Oleh karena itu, komponen
utama yang digunakan untuk menilai performa perguruan tinggi Indonesia mencakup
5 (lima) komponen utama, yaitu: a) Kualitas SDM, yang mencakup prosentase jumlah dosen
berpendidikan S3, prosentase jumlah lektor kepala dan guru besar, dan rasio mahasiswa terhadap dosen;
b) Kualitas Kelembagaan, yang mencakup akreditasi institusi dan program studi,
jumlah program studi terakreditasi internasional, jumlah mahasiswa asing, serta
jumlah kerjasama perguruan tinggi ; c) Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan, yang mencakup
kinerja kemahasiswaan; d) Kualitas Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, yang mencakup kinerja penelitian,
kinerja pengabdian pada masyarakat, dan jumlah artikel ilmiah terindeks scopus
per jumlah dosen
dan e) Kualitas inovasi, yang mencakup kinerja inovasi. Perubahan/penambahan indikator pada beberapa
komponen utama dibandingkan pada tahun sebelumnya diharapkan komponen utama tersebut
dapat lebih mencerminkan kondisi perguruan tinggi Indonesia sesuai dengan
cakupan pada masing-masing komponen utama tersebut.
Perubahan yang
sangat signifikan dalam klasterisasi tahun ini yaitu dengan memasukkan Kualitas
Inovasi sebagai salah satu komponen utama dengan tujuan untuk lebih mendukung
kebijakan Kemenristekdikti dalam hiliriasasi hasil riset ke sektor industri. Kesiapan
teknologi dan Inovasi adalah dua pilar dari dua belas pilar dalam indikator
daya saing bangsa. Oleh karena itu, tidak dapat dihindari lagi bahwa kemajuan
teknologi dan inovasi merupakan faktor penentu kemajuan suatu bangsa. Perguruan
tinggi diharapkan terus mengembangkan diri menjadi perguruan tinggi berbasis
inovasi (Innovation University) yang
secara aktif melakukan komersialisasi pengetahuan dan teknologi yang diciptakan
dalam menghasilkan inovasi-inovasi. Untuk menciptakan hal tersebut dilakukan
melalui penguatan Kebijakan, Kelembagaan, Sumberdaya, Jaringan, dan Hasil Inovasi.
Selain itu, indikator yang digunakan
pada beberapa komponen utama pun mengalami penyesuaian, yaitu penambahan
indikator kerjasama perguruan tinggi pada komponen utama kelembagaan. Peningkatan
kerjasama perguruan tinggi diharapkan dapat memperluas jejaring (networking) yang dapat meningkatkan
kualitas perguruan tinggi dari segi kelembagaan maupun sumber daya manusianya.
Dari hasil analisis terhadap data
yang tersedia baik data pada Pangkalan Data Perguruan Tingi (PD DIKTI)
Kemenristekdikti, data yang dikeluarkan oleh unit utama Kemenristekdikti,
maupun sumber-sumber lain yang relevan, maka diperoleh 5
(lima) klaster perguruan tinggi Indonesia dengan komposisi : Klaster 1
berjumlah 14 perguruan tinggi; Klaster 2 berjumlah 72 perguruan tinggi; Klaster
3 berjumlah 299 perguruan tinggi, Klaster 4 berjumlah 1,470 perguruan tinggi,
dan Klaster 5 berjumlah 155 perguruan tinggi.
Adapun perguruan tinggi non-vokasi yang masuk pada Klaster 1
terurut sesuai dengan skornya adalah sebagai berikut:

Untuk mengetahui informasi lebih
detail, Perguruan
tinggi dapat melihat nilai dari masing-masing komponen yang ada sebagai bahan
evaluasi peningkatan mutu secara online melalui laman http://pemeringkatan.ristekdikti.go.id dengan memasukkan 6 (enam) digit
kode perguruan tinggi masing-masing yang tercatat pada PD DIKTI
Kemenristekdikti.
Agar hasil klasterisasi ini semakin mencerminkan performa perguruan tinggi, perguruan tinggi di Indonesia didorong untuk terus melakukan perbaikan mutu
secara berkelanjutan dan memutakhirkan datanya di PD DIKTI maupun pada
unit utama terkait pada Kemenristekdikti.
Langganan:
Postingan (Atom)