Nomor : 3/SP/HM/BKKP/I/2019
*Rakernas Kemenristekdikti 2019 Lahirkan Tujuh Fokus Rekomendasi*
Kemenristekdikti mengawali kinerja di tahun 2019 dengan menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2019 di Universitas Diponegoro, Semarang. Rakernas 2019 ini mengambil tema "Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu" dan akan berlangsung dari Kamis, 3 Januari - Jumat, 4 Januari 2019.
Rakernas 2019 ini dihadiri sekitar 350 peserta yang berasal dari pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal Kemenristekdikti mulai dari, pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kemenristekdikti, Kepala LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, Ketua Komisi VII, Ketua Komisi X, Ketua DPD RI, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Balitbang/Deputi Kementerian terkait, BUMN, serta instansi terkait lainnya.
Hasil dari beberapa panel diskusi, berikut adalah beberapa kesimpulan kebijakan Kemenristekdikti 2019:
*Pembelajaran dan Kemahasiswaan*
a. Penyesuaian sistem dan kurikulum yang diintegrasikan dengan sistem pembelajaran online ataupun blended learning tanpa menambah SKS. Penyesuaian ini termasuk fleksibilitas dalam penerapan model semester atau triwulan.
b. Penyiapan kebutuhan lulusan pendidikan tinggi yang memiliki kompetensi dan kemampuan kerja dan sikap kerja (employability) dengan pemberian sertifikasi, peningkatan prestasi kemahasiswaan, dan pemberian pengalaman profesional.
c. Pembentukan sikap mahasiswa dan lulusan yang toleran, empatik, menghargai ragam budaya, dan cinta tanah air yang perlu diintegrasikan dengan pendidikan anti korupsi dan bela negara dalam kurikuler, kokurikuler, atau ekstra kulikuler.
d. Pengajuan pembukaan prodi inovatif untuk bidang ilmu yang menjadi prioritas negara, yang saat ini dijamin mudah dan cepat, asalkan memenuhi persyaratan yang ditentukan.
e. Kemitraan dengan industri dalam perumusan kurikulum, pelaksanaan teaching industry, program multi entry multi exit system (MEME), dan magang industri, dan penjaminan mutu untuk penyelenggaraan pendidikan vokasi yang bermutu.
*Kelembagaan Iptek dan Dikti*
Perguruan Tinggi harus melakukan :
1. Penyesuaian Prodi dan Kurikulum dengan mengintegrasikan literasi baru untuk merespon Revolusi Industri 4.0
2. Penyiapan diri menyambut beroperasinya perguruan tinggi luar negeri
3. Untuk perguruan tinggi vokasi:
a. Pembuatan rencana revitalisasi yang detil dan komprehensif
b. Pengimplementasian program MEME
c. Pembukaan prodi baru kekinian sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri
4. Lembaga litbang agar meningkatkan akreditasi kelembagaannya
*Sumber Daya Iptek dan Dikti*
1. Relevansi Pengembangan SDM dan Kebutuhan Prioritas Pembangunan
Rencana Induk Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Tinggi agar menjadi acuan/pedoman bagi perguruan tinggi dan LPNK dalam mengevaluasi serta mengembangkan program dan kebijakan, baik melalui analisis kebutuhan kualifikasi maupun kompetensi SDM (pendidik, tenaga kependidikan, peneliti, dan perekayasa).
2. Kebijakan terkait Homebase Dosen
a. Perguruan tinggi dan LPNK perlu mengevaluasi kualifikasi dan kompetensi SDM (pendidik, tenaga kependidikan, profesional, peneliti, dan perekayasa). Terutama dalam memantau beban kinerja SDM-nya berbasis full time equivalent (Ekivalensi Waktu Mengajar Penuh/EWMP) yang nantinya diterapkan sebagai dasar rekomendasi pembukaan program studi dan sharing sumber daya manusia, baik pada Pendidikan Tinggi maupun sumber daya manusia dari LPNK, atau lembaga lainnya.
b. Sistem informasi sumberdaya terintegrasi (Sister) agar digunakan sebagai sarana monitoring dan evaluasi serta kenaikan pangkat bagi dosen di perguruan tinggi.
3. Sarana Prasarana Pembelajaran Mutakhir
a. Perguruan tinggi segera menyiapkan proses pembelajaran model daring dengan memanfaatkan sarana dan prasarana khas era revolusi industri 4.0 (smart class room, augmented reality, artificial intelligence, virtual reality, data analytic, dan 3D printing) yang sifatnya tidak hanya ber
iklan gbr
Sabtu, 05 Januari 2019
Selasa, 18 Desember 2018
Daftar Jurnal Terindex Scopus dan Akreditasi Sinta- Terupdate
Singkatan | Nama Jurnal | Jadwal Terbit | Akreditasi | Masa Berlaku | ScimagoJR | Article Charge |
---|---|---|---|---|---|---|
JPKOP | Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik | 4 tahun, 6 bulan, 20 hari | None | Free of charge | ||
JSTAGE-CS | Computer Software | None | Q4 | Unknown | ||
JTIIK | Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer | 4 tahun, 0 bulan, 1 hari | None | 1,000,000.00 | ||
KHIF | Khazanah Informatika | 4 tahun, 6 bulan, 20 hari | None | 1,000,000.00 | ||
KURSOR | Jurnal Ilmiah Kursor | 0 tahun, 6 bulan, 12 hari | None | 800,000.00 | ||
LONTAR | Lontar Komputer | 4 tahun, 0 bulan, 1 hari | None | Free of charge | ||
PAL-JIT | Journal of Information Technology | None | Q1 | Free of charge | ||
SCI-ASC | Applied Soft Computing | None | Q1 | Free of charge | ||
SPR-ACI | Acta Informatica | None | Q2 | Free of charge | ||
SPR-ASE | Automated Software Engineering | None | Q3 | Free of charge |
Singkatan | Nama Jurnal | Jadwal Terbit | Akreditasi | Masa Berlaku | ScimagoJR | Article Charge |
---|---|---|---|---|---|---|
SPR-ISF | Information Systems Frontiers | None | Q1 | Unknown | ||
SPR-ISSE | Innovations in Systems and Software Engineering | None | Q3 | Unknown | ||
SPR-JIIS | Journal of Intelligent Information Systems | None | Q2 | Unknown | ||
SPR-SQJ | Software Quality Journal | None | Q3 | Free of charge | ||
SPR-SWE | Empirical Software Engineering | None | Q2 | Free of charge | ||
TAND-IJHCI | International Journal of Human-Computer Interaction | None | Q2 | Free of charge | ||
TELKOMNIKA | Telecommunication Computing Electronics and Control | 4 tahun, 6 bulan, 20 hari | Q3 | 3,808,050.00 | ||
WIL-JAIST | Journal of the Association for Information Science and Technology | None | Q1 | Unknown |
Minggu, 09 Desember 2018
Daftar Jurnal yg Masih dan Telah Direject DOAJ
Berikut daftar jurnal yg masih dan telah direject DOAJ
https://docs.google.com/spreadsheets/d/183mRBRqs2jOyP0qZWXN8dUd02D4vL0Mov_kgYF8HORM/edit#gid=1650882189
https://docs.google.com/spreadsheets/d/183mRBRqs2jOyP0qZWXN8dUd02D4vL0Mov_kgYF8HORM/edit#gid=1650882189
Senin, 19 November 2018
Disrupsi dunia kuliner dimulai ?
Disrupsi dunia kuliner dimulai ?
Akhir akhir ini dunia kuliner ibukota dihebohkan oleh promosi gila2an yang dilakukan oleh startup fintech yang kian gencar melakulan akuisisi pelanggan.
Coba tengok di beberapa mall favorit. Paket Bakso ini Rp. 4000. Kopi expresso itu Rp. 2000. Paket semangkok Nasi ayam Rp. 5000. Dan lain lain. Sudah termasuk service. Fasilitas ruangan ber AC dengan interior keren. Harga gila, jauh lebih murah daripada harga jual di warung tenda!
Itu baru yang dilakukan salah satu payment gateway berlogo biru, sebut saja namanya Gopek (bukan nama sebenernya)
Lain lagi yang dilakukan aplikasi travelaku (nama samaran), penjual tiket online, yang juga mulai gencar menawarkan voucher-voucher murah dari restoran/kuliner branded dengan subsidi diskon sampai 60%. Makanan yg biasanya dijual seporsi 50 rb an, cukup dibayar dengan 20rb. Sisanya 30rb si aplikasi yang bayarin.
Persaingan makin memanas. Aplikaso Oso (juga nama samaran), yang sejak berdiri sudah fokus sebagai payment gateway, juga turut meramaikan peperangan dengan diskon cashback dari 10% hingga 30%.
Grebek, sang unicorn Ojek online jg tak mau kalah. Coba saja masuk aplikasinya, macam-macam diskon kuliner spektakuler ditawarkan demi meningkatkan pendapatan perusahaan, tentunya dengan melalui fintech payment gateway yang dimilikinya. Belakangan aplikasi ini berkolaborasi menggunakan payment gateway Oso untuk kemudahan pelanggan bertransaksi.
Sejatinya perang promosi yang terjadi adalah untuk menambah jumlah pengguna aplikasi, yang ujungnya adalah menambah jumlah penyimpanan uang digital pada aplikasi tersebut.
Masing2 berusaha mencari partner usaha kuliner. Dapet uang dari warung/usaha kuliner yg selama ini tidak pernah mereka dirikan. Targetnya bervariasi. Ada yang mengincar pendapatan dari dine in (makan di tempat), ada yang take away (bungkus), ada yg jualan voucher makan yang bisa dibagikan ke kolega atau saudara.
Disrupsi perlahan mulai terjadi. Banting2an harga tak terhindarkan. Masyarakat yg tadinya jarang masuk restoran, jadi banyak pilihan dengan harga yg sangat terjangkau. Yang biasanya makan di warteg atau kantin warung belakang kantor, mudah mengupgrade gaya hidup dengan makan di restoran favorit dengan harga yang jauh lebih murah. Dengan maraknya promo kuliner super murah, pelanggan tentunya adalah pihak yang paling diuntungkan.
Dulu perangnya di tarif angkutan. Taksi, angkot jadi korbannya. Sekarang merangsek ke kuliner. Apakah kantin-kantin dan warung tenda bakal terganggu ?
Jika perang rebutan 'nasabah' ini terus terjadi dan makin masif, kedepan ini akan jadi masalah sekaligus peluang bagi pemilik usaha2 kuliner. Serba salah. Tidak ikutan promosi bakal kegencet warung sebelah yang lagi banting harga dapet subsidi. Kalau ikutan juga musti mikir bahan baku apa yg tahan dibanting sampai perang usai. Set up menu yang cukup lebar marginnya untuk dibagi dengan pihak fintech. Karena pihak fintech menginginkan potongan harga yang besar untuk menarik minat pelanggan.
Efeknya saya rasa dalam jangka pendek hanya merugikan satu atau beberapa usaha kuliner tetangga , dan sangat menguntungkan usaha lain yang sedang disubsidi. Tetapi dalam jangka panjang jika polanya terus sama, akan mengoreksi harga2 jasa kuliner, sedemikian sehingga jika sampai usaha kuliner secara masif tidak bisa menutup biaya sewa, maka harga2 sewa/property pun akan ikut terkoreksi tajam. Atau jika harga sewa tidak banyak terkoreksi, maka cara penyajian, cara pelayanan (proses bisnis dan bisnis model ) harus segera dirubah supaya tetap efisien. Inilah tantangan sekaligus peluang bisnis kuliner masakini dengan hadirnya ekonomi digital.
Bagaimana agar bisnis kuliner kita menjadi primadona yang disubsidi fintech, bagaimana meningkatkan daya tawar produk sehingga komisi untuk fintech bisa ditekan serendah mungkin, bagaimana profit tetap bagus walaupun terjadi perang promosi fintech. Kurang lebih itu, diluar masalah2 operasional harian tentunya.
Cahsless society suatu saat akan menjadi kenyataan. Cepat atau lambat. Fintech yang awalnya sering kasih subsidi dan diskon besar untuk pelanggan dan kasih sales buat merchant, tentunya ingin suatu saat uangnya kembali.
Ketika jumlah uang digital bertambah, tentunya akan didapat pula data-data digital. Dengan cara ini tentunya mereka tahu sekali pola-pola penjualan merchant. menu-menu apa yang paling laku di pasaran, berapa pembelian rata2, daerah mana yang paling banyak menghasilkan penjualan. Daerah mana suka dengan menu apa. Dst.
Kalau kuliner berhasil digarap dengan baik, mungkin sekali merambah bidang lain seperti barang-barang fashion branded. Atau bidang2 jasa lain yang cukup lebar untuk dishare marginnya.
Setelah data pelanggan sudah didapat, pola pelanggan sudah teramati dengan baik, deposit uang digital juga semakin besar, maka bukan tidak mungkin jika suatu saat fintech menjelma menjadi bank-bank swasta generasi baru. Yang awalnya bank sebagai partner fintech dalam melakukan top up saldo, bisa jadi akan berdiri sendiri sebuah bank format baru. Yang lebih efisien dan betul2 memahami kebiasaan pelanggannya.
Jika abang-abang ojol dulu hanya bertugas untuk mengantar barang, mengantar makanan. Sekarang beberapa dari mereka sudah mulai sambil bertugas sebagai teller untuk memasukkan uang pelanggan ke aplikasi fintech mereka. Tentunya ada bonus poin menarik untuk itu.
Kedepan, sangatlah mungkin mereka juga bertugas sebagai debt collector manakala sudah tiba saatnya sang Fintech menjelma menjadi sebuah bank komersial.
Bisa Jadi, ketika seorang pelanggan memesan makanan lewat aplikasi, si Abang Ojek yang mengantar pesanan pelanggan bisa berkata " Silahkan Pak ini pesanan 10 box paket Bebek Dowernya. Oh ya, ada titipan pesan dari kantor katanya Bapak belum melunasi cicilan motor bulan ini. Apa bisa kami ambil sekalian ? "
Jreng jreeng... Jiaahh.. :))
Akhir akhir ini dunia kuliner ibukota dihebohkan oleh promosi gila2an yang dilakukan oleh startup fintech yang kian gencar melakulan akuisisi pelanggan.
Coba tengok di beberapa mall favorit. Paket Bakso ini Rp. 4000. Kopi expresso itu Rp. 2000. Paket semangkok Nasi ayam Rp. 5000. Dan lain lain. Sudah termasuk service. Fasilitas ruangan ber AC dengan interior keren. Harga gila, jauh lebih murah daripada harga jual di warung tenda!
Itu baru yang dilakukan salah satu payment gateway berlogo biru, sebut saja namanya Gopek (bukan nama sebenernya)
Lain lagi yang dilakukan aplikasi travelaku (nama samaran), penjual tiket online, yang juga mulai gencar menawarkan voucher-voucher murah dari restoran/kuliner branded dengan subsidi diskon sampai 60%. Makanan yg biasanya dijual seporsi 50 rb an, cukup dibayar dengan 20rb. Sisanya 30rb si aplikasi yang bayarin.
Persaingan makin memanas. Aplikaso Oso (juga nama samaran), yang sejak berdiri sudah fokus sebagai payment gateway, juga turut meramaikan peperangan dengan diskon cashback dari 10% hingga 30%.
Grebek, sang unicorn Ojek online jg tak mau kalah. Coba saja masuk aplikasinya, macam-macam diskon kuliner spektakuler ditawarkan demi meningkatkan pendapatan perusahaan, tentunya dengan melalui fintech payment gateway yang dimilikinya. Belakangan aplikasi ini berkolaborasi menggunakan payment gateway Oso untuk kemudahan pelanggan bertransaksi.
Sejatinya perang promosi yang terjadi adalah untuk menambah jumlah pengguna aplikasi, yang ujungnya adalah menambah jumlah penyimpanan uang digital pada aplikasi tersebut.
Masing2 berusaha mencari partner usaha kuliner. Dapet uang dari warung/usaha kuliner yg selama ini tidak pernah mereka dirikan. Targetnya bervariasi. Ada yang mengincar pendapatan dari dine in (makan di tempat), ada yang take away (bungkus), ada yg jualan voucher makan yang bisa dibagikan ke kolega atau saudara.
Disrupsi perlahan mulai terjadi. Banting2an harga tak terhindarkan. Masyarakat yg tadinya jarang masuk restoran, jadi banyak pilihan dengan harga yg sangat terjangkau. Yang biasanya makan di warteg atau kantin warung belakang kantor, mudah mengupgrade gaya hidup dengan makan di restoran favorit dengan harga yang jauh lebih murah. Dengan maraknya promo kuliner super murah, pelanggan tentunya adalah pihak yang paling diuntungkan.
Dulu perangnya di tarif angkutan. Taksi, angkot jadi korbannya. Sekarang merangsek ke kuliner. Apakah kantin-kantin dan warung tenda bakal terganggu ?
Jika perang rebutan 'nasabah' ini terus terjadi dan makin masif, kedepan ini akan jadi masalah sekaligus peluang bagi pemilik usaha2 kuliner. Serba salah. Tidak ikutan promosi bakal kegencet warung sebelah yang lagi banting harga dapet subsidi. Kalau ikutan juga musti mikir bahan baku apa yg tahan dibanting sampai perang usai. Set up menu yang cukup lebar marginnya untuk dibagi dengan pihak fintech. Karena pihak fintech menginginkan potongan harga yang besar untuk menarik minat pelanggan.
Efeknya saya rasa dalam jangka pendek hanya merugikan satu atau beberapa usaha kuliner tetangga , dan sangat menguntungkan usaha lain yang sedang disubsidi. Tetapi dalam jangka panjang jika polanya terus sama, akan mengoreksi harga2 jasa kuliner, sedemikian sehingga jika sampai usaha kuliner secara masif tidak bisa menutup biaya sewa, maka harga2 sewa/property pun akan ikut terkoreksi tajam. Atau jika harga sewa tidak banyak terkoreksi, maka cara penyajian, cara pelayanan (proses bisnis dan bisnis model ) harus segera dirubah supaya tetap efisien. Inilah tantangan sekaligus peluang bisnis kuliner masakini dengan hadirnya ekonomi digital.
Bagaimana agar bisnis kuliner kita menjadi primadona yang disubsidi fintech, bagaimana meningkatkan daya tawar produk sehingga komisi untuk fintech bisa ditekan serendah mungkin, bagaimana profit tetap bagus walaupun terjadi perang promosi fintech. Kurang lebih itu, diluar masalah2 operasional harian tentunya.
Cahsless society suatu saat akan menjadi kenyataan. Cepat atau lambat. Fintech yang awalnya sering kasih subsidi dan diskon besar untuk pelanggan dan kasih sales buat merchant, tentunya ingin suatu saat uangnya kembali.
Ketika jumlah uang digital bertambah, tentunya akan didapat pula data-data digital. Dengan cara ini tentunya mereka tahu sekali pola-pola penjualan merchant. menu-menu apa yang paling laku di pasaran, berapa pembelian rata2, daerah mana yang paling banyak menghasilkan penjualan. Daerah mana suka dengan menu apa. Dst.
Kalau kuliner berhasil digarap dengan baik, mungkin sekali merambah bidang lain seperti barang-barang fashion branded. Atau bidang2 jasa lain yang cukup lebar untuk dishare marginnya.
Setelah data pelanggan sudah didapat, pola pelanggan sudah teramati dengan baik, deposit uang digital juga semakin besar, maka bukan tidak mungkin jika suatu saat fintech menjelma menjadi bank-bank swasta generasi baru. Yang awalnya bank sebagai partner fintech dalam melakukan top up saldo, bisa jadi akan berdiri sendiri sebuah bank format baru. Yang lebih efisien dan betul2 memahami kebiasaan pelanggannya.
Jika abang-abang ojol dulu hanya bertugas untuk mengantar barang, mengantar makanan. Sekarang beberapa dari mereka sudah mulai sambil bertugas sebagai teller untuk memasukkan uang pelanggan ke aplikasi fintech mereka. Tentunya ada bonus poin menarik untuk itu.
Kedepan, sangatlah mungkin mereka juga bertugas sebagai debt collector manakala sudah tiba saatnya sang Fintech menjelma menjadi sebuah bank komersial.
Bisa Jadi, ketika seorang pelanggan memesan makanan lewat aplikasi, si Abang Ojek yang mengantar pesanan pelanggan bisa berkata " Silahkan Pak ini pesanan 10 box paket Bebek Dowernya. Oh ya, ada titipan pesan dari kantor katanya Bapak belum melunasi cicilan motor bulan ini. Apa bisa kami ambil sekalian ? "
Jreng jreeng... Jiaahh.. :))
Kamis, 25 Oktober 2018
INDONESIA NEGARA KE-21 YG MENOLAK HTI
INDONESIA NEGARA KE-21 YG MENOLAK HTI
Berikut negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir:
1. Mesir
Dibubarkan: 1974
Alasan: Terlibat upaya kudeta
2. Suriah
Dibubarkan: 1998
Alasan: Dilarang melalui jalur ekstra yudisial
3. Turki
Dibubarkan: 2004
Alasan: Organisasi teroris
4. Rusia
Dibubarkan: 2003
Alasan: Organisasi teroris
5. Jerman
Dibubarkan: 2003
Alasan: Penyebar propraganda kekerasan dan anti semit Yahudi
6. Malaysia
Dibubarkan: 2015
Alasan: Dianggap kelompok menyimpang
7. Yordania
Dibubarkan: 1953
Alasan: Mengancam kedaulatan negara
8. Arab Saudi
Dibubarkan: Era Abdulaziz
Alasan: Ancaman negara
9. Libya
Dibubarkan: Era Moamar Khadafi
Alasan: Organisasi yang menimbulkan keresahan
10. Pakistan
Dibubarkan: 2016
Alasan: Dianggap ancaman negara
11. Uzbekistan
Dibubarkan: 1999
Alasan: Menjadi dalang pengeboman di Tashkent
12. Kirgistan
Dibubarkan: 2004
Alasan: Kelompok ekstrem
13. Tajikistan
Dibubarkan: 2005
Alasan: Terlibat aktivitas terorisme
14. Kazakhstan
Dibubarkan: 2005
Alasan: Terlibat terorisme
15. China
Dibubarkan: 2006
Alasan: Melakukan kegiatan teror
16. Bangladesh
Dibubarkan: 2009
Alasan: Terlibat aktivitas militan dan mengancam kedamaian
17. Perancis
Dibubarkan: -
Alasan: Organisasi ilegal
18. Spanyol
Dibubarkan: 2008
Alasan: Organisasi ilegal
19. Tajikistan
Dibubarkan: 2001
Alasan: Sejumlah anggotanya dipenjara
20. Tunisia
Dibubarkan: -
Alasan: Merusak ketertiban umum
21. Indonesia
Dibubarkan: 2017
Alasan: Bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi, mengancam
ketertiban masyarakat, dan membahayakan keutuhan negara
Minggu, 30 September 2018
Materi penulisan jurnal ilmiah bereputasi oleh Prof. Teddy Mantoro dari Sampoerna University
Materi penulisan jurnal ilmiah bereputasi oleh Prof. Teddy Mantoro dari Sampoerna University
https://drive.google.com/file/d/1IZH4Rmpsn8KtfbmpAQLkmcPvscKUQ99T/view
https://drive.google.com/file/d/1IZH4Rmpsn8KtfbmpAQLkmcPvscKUQ99T/view
Kamis, 13 September 2018
Apresiasi terhadap Jokowi Pemimpin kita utk pidatonya
Apresiasi terhadap Pemimpin kita utk pidatonya:
"Apa yang sedang terjadi dalam perekonomian dunia hari ini adalah kita sedang menuju perang tanpa batas [Infinity War]. Kita belum pernah menghadapi perang dagang dengan ekskalasi seperti saat ini sejak Great Depression di tahun 1930-an. Namun, yakinlah saya dan rekan Avengers saya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagia populasi dunia.
Thanos ingin menghabisi separuh populasi sehingga sisanya yang bertahan dapat menikmati sumber daya per kapita sebesar dua kali lipatnya. Namun, ada kesalahan mendasar dari asumsi ini. Thanos yakin sumber daya di planet bumi terbatas. Faktanya adalah sumber daya alam yang tersedia bagi umat manusia bukannya terbatas, namun tidak terbatas.
Perkembangan teknologi telah menghasilkan peningkatan efisiensi, memberi kita kemampuan untuk memperbanyak sumber daya kita lebih banyak dari sebelumnya.
Penelitian ilmiah membuktikan, ekonomi kita sekarang lebih 'ringan' dalam hal berat fisik dan volume fisik. Hanya dalam 12 tahun terakhir, total berat dan volume televisi, kamera, pemutar music, buku, surat kabar, dan majalah telah tergantikan oleh ringannya ponsel pintar dan tablet.
Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang berat telah tergantikan oleh panel surya dan kincir angin yang ringan.
Kedua, saat perekonomian kita terus berkembang, ekonomi tidak lagi didorong oleh sumber daya alam yang terbatas, melainkan oleh sumber daya manusia yang tidak terbatas.
Generasi muda Indonesia menjadi motor ledakan e-commerce dan ekonomi digital yang transformasional. Saat ini, kami memiliki empat unicorn atau startup bervaluasi di atas US$1 miliar di Indonesia dan tentu saja sumber daya manusia sekarang mendorong revolusi industri 4.0. Pada 4 April lalu kami telah meluncurkan program pemerintah Revolusi Industri 4.0 yang diberi nama "Making Indonesia 4.0".
Pertama, saya percaya bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menciptakan banyak lapangan kerja BUKAN MENGHILANGKAN tidak hanya dalam jangka panjang melainkan juga dalam jangka pendek.
Kedua, saya percaya Revolusi Industri 4.0 tidak akan meningkatkan kesenjangan namun justru menurunkannya karena salah satu aspek penting dari Revolusi Industri 4.0 adalah penurunan biaya secara dramatis bagi barang dan jasa sehingga menyebabkan produk tersebut lebih murah dan mudah dijangkau bagi kalangan berpendapatan rendah.
Ketiga, saya percaya ASEAN termasuk Indonesia akan menjadi yang terdepan dalam Revolusi Industri 4.0. Namun, kita harus mencegah perang dagang ini berkembang menjadi perang tanpa batas.
Anda mungkin bertanya-tanya siapa Thanos? Hadirin sekalian, Thanos bukanlah seorang individu. Maaf sudah membuat Anda kecewa. Thanos ada di dalam diri kita semua. THANOS adalah paham yang salah bahwa untuk berhasil, orang lain harus menyerah. Ia adalah persepsi yang salah bahwa keberhasilan sekelompok orang adalah kegagalan bagi yang lainnya.
Sehingga, Infinity War bukan hanya tentang perang dagang kita tetapi tentang setiap dari diri kita mempelajari ulang sejarah bahwa dengan kreativitas, energi, kolaborasi, dan kerja sama umat manusia akan menikmati sumber daya yang melimpah dan tidak terbatas bukannya perang tak berkesudahan".
"Apa yang sedang terjadi dalam perekonomian dunia hari ini adalah kita sedang menuju perang tanpa batas [Infinity War]. Kita belum pernah menghadapi perang dagang dengan ekskalasi seperti saat ini sejak Great Depression di tahun 1930-an. Namun, yakinlah saya dan rekan Avengers saya siap menghalangi Thanos yang ingin menghapus sebagia populasi dunia.
Thanos ingin menghabisi separuh populasi sehingga sisanya yang bertahan dapat menikmati sumber daya per kapita sebesar dua kali lipatnya. Namun, ada kesalahan mendasar dari asumsi ini. Thanos yakin sumber daya di planet bumi terbatas. Faktanya adalah sumber daya alam yang tersedia bagi umat manusia bukannya terbatas, namun tidak terbatas.
Perkembangan teknologi telah menghasilkan peningkatan efisiensi, memberi kita kemampuan untuk memperbanyak sumber daya kita lebih banyak dari sebelumnya.
Penelitian ilmiah membuktikan, ekonomi kita sekarang lebih 'ringan' dalam hal berat fisik dan volume fisik. Hanya dalam 12 tahun terakhir, total berat dan volume televisi, kamera, pemutar music, buku, surat kabar, dan majalah telah tergantikan oleh ringannya ponsel pintar dan tablet.
Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara yang berat telah tergantikan oleh panel surya dan kincir angin yang ringan.
Kedua, saat perekonomian kita terus berkembang, ekonomi tidak lagi didorong oleh sumber daya alam yang terbatas, melainkan oleh sumber daya manusia yang tidak terbatas.
Generasi muda Indonesia menjadi motor ledakan e-commerce dan ekonomi digital yang transformasional. Saat ini, kami memiliki empat unicorn atau startup bervaluasi di atas US$1 miliar di Indonesia dan tentu saja sumber daya manusia sekarang mendorong revolusi industri 4.0. Pada 4 April lalu kami telah meluncurkan program pemerintah Revolusi Industri 4.0 yang diberi nama "Making Indonesia 4.0".
Pertama, saya percaya bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menciptakan banyak lapangan kerja BUKAN MENGHILANGKAN tidak hanya dalam jangka panjang melainkan juga dalam jangka pendek.
Kedua, saya percaya Revolusi Industri 4.0 tidak akan meningkatkan kesenjangan namun justru menurunkannya karena salah satu aspek penting dari Revolusi Industri 4.0 adalah penurunan biaya secara dramatis bagi barang dan jasa sehingga menyebabkan produk tersebut lebih murah dan mudah dijangkau bagi kalangan berpendapatan rendah.
Ketiga, saya percaya ASEAN termasuk Indonesia akan menjadi yang terdepan dalam Revolusi Industri 4.0. Namun, kita harus mencegah perang dagang ini berkembang menjadi perang tanpa batas.
Anda mungkin bertanya-tanya siapa Thanos? Hadirin sekalian, Thanos bukanlah seorang individu. Maaf sudah membuat Anda kecewa. Thanos ada di dalam diri kita semua. THANOS adalah paham yang salah bahwa untuk berhasil, orang lain harus menyerah. Ia adalah persepsi yang salah bahwa keberhasilan sekelompok orang adalah kegagalan bagi yang lainnya.
Sehingga, Infinity War bukan hanya tentang perang dagang kita tetapi tentang setiap dari diri kita mempelajari ulang sejarah bahwa dengan kreativitas, energi, kolaborasi, dan kerja sama umat manusia akan menikmati sumber daya yang melimpah dan tidak terbatas bukannya perang tak berkesudahan".
Langganan:
Postingan (Atom)